Adhi Karya Jual Aset Jalan Tol dan Penyedia Air Bersih Senilai Rp1,9 Triliun, Perkuat Struktur Modal
JAKARTA – Raksasa konstruksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), mengambil langkah strategis besar dalam upaya memperkuat kondisi keuangan perusahaan. Emiten yang bergerak di bidang jasa konstruksi ini mengumumkan rencana divestasi atau penjualan sejumlah aset strategis, yang mencakup bisnis jalan tol dan penyedia layanan air bersih, dengan estimasi nilai mencapai Rp1,9 triliun.
Langkah ini dipandang sebagai bagian dari strategi manajemen untuk melakukan optimalisasi aset dan manajemen arus kas (cash flow) yang lebih sehat. Dengan melepas aset-aset non-inti atau aset yang sudah mencapai tahap kematangan tertentu, Adhi Karya diharapkan dapat merampingkan struktur permodalan serta mengurangi beban utang perusahaan yang selama ini menjadi perhatian para investor.
Strategi Divestasi untuk Memperkuat Likuiditas
Keputusan Adhi Karya untuk menjual aset jalan tol dan unit bisnis penyedia air bersih ini bukan tanpa alasan. Dalam industri konstruksi dan infrastruktur, pengelolaan aset yang terlalu berat (asset-heavy) seringkali menjadi tantangan dalam menjaga fleksibilitas keuangan. Melalui aksi korporasi ini, perusahaan bertujuan untuk mencairkan nilai dari aset-aset yang telah beroperasi secara stabil guna dialokasikan kembali ke sektor yang lebih produktif.
Divestasi senilai Rp1,9 triliun ini diproyeksikan akan memberikan suntikan likuiditas yang signifikan bagi perusahaan. Dana segar yang diperoleh nantinya akan digunakan untuk beberapa tujuan strategis, antara lain:
Pengurangan Leverage (Deleveraging): Menggunakan dana hasil penjualan untuk melunasi kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio) menjadi lebih sehat.
Pembiayaan Proyek Baru: Memastikan ketersediaan modal kerja untuk memenangkan dan mengerjakan proyek-proyek konstruksi strategis nasional yang memiliki margin keuntungan lebih tinggi.
Optimalisasi Struktur Permodalan: Memperbaiki neraca keuangan (balance sheet) agar perusahaan memiliki posisi tawar yang lebih kuat di mata kreditor maupun investor global.
Fokus pada Core Business: Kembali ke kompetensi utama sebagai kontraktor infrastruktur tanpa terbebani oleh manajemen operasional aset yang memerlukan belanja modal (Capex) berkelanjutan.