Perkuat Ekosistem Renminbi, BI Dorong Bank Himbara Jadi Bank Kliring Yuan Pertama di Indonesia
Jakarta - Bank Indonesia (BI) tengah mengambil langkah strategis dalam memperkuat arsitektur sistem pembayaran internasional di tanah air. Dalam upaya memperkokoh penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan internasional, BI secara resmi mendorong salah satu bank milik negara atau Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk segera bertransformasi menjadi bank kliring Renminbi (RMB).
Langkah ini diambil sebagai bagian dari peta jalan besar Bank Indonesia untuk memperluas ekosistem mata uang Yuan di Indonesia. Dengan adanya bank kliring domestik, diharapkan efisiensi transaksi perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok—sebagai mitra dagang terbesar Indonesia—dapat meningkat secara signifikan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan Dollar AS dalam setiap transaksi lintas negara.
Target Operasional Kuartal IV-2026
Bank Indonesia telah menetapkan target yang ambisius namun terukur dalam penguatan infrastruktur mata uang asing ini. BI memproyeksikan bahwa sistem bank kliring Renminbi di Indonesia sudah dapat beroperasi secara penuh pada kuartal keempat tahun 2026.
Saat ini, peran kliring Renminbi di Indonesia masih didominasi oleh pemain global, yakni Bank of China (BoC). Sebagai bank kliring perdana, Bank of China telah menjalankan fungsi krusial dalam memfasilitasi penyelesaian transaksi mata uang Yuan di pasar domestik. Namun, BI melihat adanya kebutuhan mendesak untuk memiliki entitas perbankan nasional yang mampu memegang peran serupa.
Penunjukan bank Himbara sebagai kliring kedua bukan sekadar penambahan pemain, melainkan upaya untuk membangun kedaulatan moneter melalui mekanisme Local Currency Settlement (LCS) atau yang kini lebih dikenal dengan Local Currency Transaction (LCT). Dengan adanya bank lokal yang bertindak sebagai kliring, akses bagi pelaku usaha di Indonesia, mulai dari korporasi besar hingga pelaku UMKM, akan menjadi lebih luas dan mudah.
Mengapa Bank Himbara Menjadi Target Utama?
Pemilihan bank-bank di bawah naungan Himbara—seperti Bank Mandiri, BNI, atau BRI—sebagai calon bank kliring Renminbi bukanlah tanpa alasan kuat. Ada beberapa faktor strategis yang melatarbelakangi keputusan Bank Indonesia:
Jaringan Luas: Bank Himbara memiliki jaringan kantor cabang dan infrastruktur digital yang menjangkau hingga ke pelosok negeri, sehingga mempermudah penetrasi layanan transaksi Yuan kepada berbagai lapisan pelaku ekonomi.
Basis Nasabah Korporasi: Sebagian besar perusahaan manufaktur dan eksportir-importir besar di Indonesia adalah nasabah utama bank-bank Himbara. Memudahkan mereka dalam transaksi Renminbi akan berdampak langsung pada kelancaran arus kas bisnis.
Dukungan Pemerintah: Sebagai bank milik negara, Himbara memiliki keselarasan visi dengan kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan memperkuat nilai tukar Rupiah.