DWJ Manajement - PORTAL

BI Sebut Rupiah Melemah 7,74% Sepanjang 2026

Oleh: DWJ-Manajement • 30 Sep 2026
BI Sebut Rupiah Melemah 7,74% Sepanjang 2026

Rupiah Tertekan Tajam, BI Catat Depresiasi 7,74 Persen Sepanjang 2026

Tekanan Global dan Fluktuasi Pasar Keuangan Dunia Menjadi Pemicu Utama Pelemahan Mata Uang Garuda di Tahun Ini.

JAKARTA - Kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren yang cukup menantang di sepanjang tahun 2026. Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa mata uang Garuda mengalami tekanan depresiasi yang signifikan, mencapai angka 7,74 persen secara year to date (ytd).

Pelemahan ini menjadi perhatian serius bagi otoritas moneter dan pelaku pasar, mengingat volatilitas yang terjadi mencerminkan dinamika ekonomi global yang sedang tidak menentu. Angka depresiasi sebesar 7,74 persen ini menandakan adanya tekanan yang konsisten baik dari faktor eksternal maupun dinamika aliran modal di pasar keuangan domestik.

Analisis Pergerakan Rupiah: Mengapa Terjadi Depresiasi Signifikan?

Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Bank Indonesia, pelemahan rupiah tidak terjadi dalam ruang hampa. Terdapat serangkaian faktor kompleks yang saling berkelindan, menciptakan tekanan jual terhadap rupiah di pasar valuta asing. Para analis melihat bahwa kombinasi antara kebijakan moneter global dan ketidakpastian geopolitik menjadi motor utama di balik angka depresiasi ini.

Salah satu faktor utama yang diidentifikasi adalah penguatan indeks dolar AS (DXY) yang terus merangkak naik. Ketika dolar AS menguat secara global, investor cenderung menarik aset mereka dari pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, untuk kembali ke aset-aset yang dianggap lebih aman (safe haven) di Amerika Serikat.

Berikut adalah beberapa faktor kunci yang berkontribusi terhadap pelemahan rupiah sepanjang 2026:

Kebijakan Moneter Federal Reserve: Kebijakan suku bunga di Amerika Serikat yang tetap tinggi (higher for longer) memaksa selisih imbal hasil (yield spread) antara aset domestik dan aset AS menyempit, yang memicu aliran modal keluar (capital outflow).

Ketidakpastian Geopolitik: Ketegangan di berbagai belahan dunia memicu sentimen risk-off di kalangan investor global, di mana mereka lebih memilih menyimpan dana dalam bentuk dolar AS.

Dinamika Perdagangan Global: Perubahan pola permintaan komoditas unggulan Indonesia di pasar internasional turut mempengaruhi neraca pembayaran dan posisi cadangan devisa.