BI Pasang Badan: Bank Dilarang 'Malas' Main Obligasi, Fokus Alirkan Kredit ke Sektor Riil!
Bank Indonesia (BI) memberikan sinyal tegas kepada industri perbankan nasional agar tidak terjebak dalam zona nyaman investasi surat berharga. BI mendorong perbankan untuk kembali ke khitah utamanya, yakni memperkuat fungsi intermediasi melalui penyaluran kredit yang masif ke sektor-sektor strategis.
Langkah ini diambil sebagai respons atas dinamika pasar keuangan yang menunjukkan kecenderungan perbankan lebih memilih menempatkan likuiditasnya pada instrumen surat berharga atau obligasi yang dinilai lebih aman dan minim risiko, dibandingkan menyalurkan kredit ke sektor riil yang dianggap memiliki risiko lebih tinggi namun berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi.
Dorong Fungsi Intermediasi Perbankan
Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa peran bank sebagai perantara keuangan (intermediary) harus dioptimalkan. Menurutnya, perbankan tidak boleh hanya sekadar menjadi pemain di pasar sekunder melalui pembelian obligasi, tetapi harus menjadi motor penggerak ekonomi melalui penyaluran kredit.
Selama ini, fenomena "preferensi rendah risiko" di kalangan bank menjadi tantangan tersendiri bagi stabilitas ekonomi nasional. Ketika likuiditas bank menumpuk di instrumen surat berharga, multiplier effect atau efek pengganda terhadap ekonomi menjadi sangat kecil. Hal ini berpotensi menghambat akselerasi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) karena uang tidak berputar secara produktif di masyarakat.
Destry menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan hanya dapat dicapai jika sektor riil mendapatkan dukungan pendanaan yang cukup. Dengan beralihnya fokus bank dari obligasi ke kredit, diharapkan sektor-sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi dapat tumbuh lebih cepat dan inklusif.
Mengapa Bank Lebih Memilih Obligasi?
Fenomena perbankan yang lebih banyak memegang obligasi dibandingkan menyalurkan kredit dipicu oleh beberapa faktor fundamental dalam industri keuangan. Beberapa alasan utama yang sering menjadi perhatian para analis ekonomi antara lain:
Profil Risiko yang Lebih Terukur: Investasi pada surat berharga negara (SBN) atau obligasi korporasi dengan rating tinggi menawarkan tingkat keamanan yang jauh lebih pasti dibandingkan kredit kepada pelaku usaha.
Likuiditas yang Tinggi: Instrumen surat berharga sangat mudah dicairkan (liquid) kapan saja dibutuhkan, sementara kredit memiliki tenor yang lebih panjang dan risiko gagal bayar (Non-Performing Loan/NPL) yang harus dikelola secara ketat.