DWJ Manajement - PORTAL

BI Telah Guyur Likuditas Rp461,2 Triliun ke Bank

Oleh: DWJ-Manajement 23 Sep 2026
BI Telah Guyur Likuditas Rp461,2 Triliun ke Bank

BI Guyur Likuiditas Rp 461,2 Triliun ke Perbankan, Upaya Dongkrak Kredit Nasional

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) terus menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui kebijakan moneter yang proaktif. Berdasarkan data terbaru, bank sentral telah menggelontorkan insentif likuiditas dalam jumlah yang sangat masif, mencapai Rp 461,2 triliun hingga pekan pertama September 2026.

Langkah strategis ini diambil untuk memastikan bahwa sektor perbankan memiliki kapasitas yang cukup untuk menyalurkan kredit ke berbagai sektor produktif. Dengan adanya suntikan likuiditas yang besar ini, BI berharap roda perekonomian dapat berputar lebih cepat, terutama dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

Perkuat Stabilitas Moneter dan Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Penggelontoran likuiditas senilai Rp 461,2 triliun ini bukan sekadar angka statistik semata. Bagi para pelaku pasar dan pengamat ekonomi, jumlah ini merepresentasikan upaya serius BI dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas harga (inflasi) dan pertumbuhan ekonomi. Dalam kondisi di mana pasar global seringkali mengalami volatilitas tinggi, ketersediaan likuiditas di dalam negeri menjadi benteng pertahanan utama bagi sistem perbankan nasional.

Bank Indonesia melalui instrumen kebijakan makroprudensialnya berupaya menurunkan biaya dana (cost of fund) bagi perbankan. Jika perbankan memiliki likuiditas yang melimpah dan murah, maka mereka akan memiliki ruang gerak yang lebih luas untuk menurunkan suku bunga kredit kepada masyarakat dan pelaku usaha.

Beberapa tujuan utama dari kebijakan suntikan likuiditas ini meliputi:

Mendorong Penyaluran Kredit: Memastikan bank tidak mengalami kesulitan dana saat permintaan kredit dari sektor riil meningkat.

Mendukung Sektor Prioritas: Mengarahkan aliran dana ke sektor-sektor yang memiliki dampak pengganda (multiplier effect) tinggi terhadap ekonomi.