```html
Strategi Bank Neo Commerce (BBYB) Menuju KBMI II: Menjawab Tantangan OJK dan Memperkuat Fondasi Digital
Langkah strategis BBYB dalam meningkatkan modal inti guna memenuhi standar baru OJK bagi perbankan nasional.
JAKARTA - Industri perbankan digital di Indonesia tengah memasuki babak baru yang penuh dengan tantangan sekaligus peluang. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara konsisten memberikan imbauan kepada bank-bank yang saat ini berada di kategori Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) I untuk segera melakukan penguatan modal guna naik kelas menjadi KBMI II.
Menanggapi dinamika regulasi tersebut, PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB), salah satu pemain utama dalam sektor bank digital, akhirnya buka suara. Manajemen Bank Neo Commerce menyatakan kesiapannya dalam menyikapi arahan regulator tersebut sebagai bagian dari peta jalan (roadmap) jangka panjang perusahaan untuk memperkuat struktur permodalan dan stabilitas bisnis.
Memahami Urgensi Kenaikan Kelas KBMI bagi Bank Digital
Sebelum mendalami respon BBYB, penting bagi para pelaku pasar untuk memahami apa yang dimaksud dengan klasifikasi KBMI. OJK menggunakan pengelompokan ini untuk mengukur skala bank berdasarkan jumlah modal inti yang dimiliki. Pengelompokan ini tidak hanya sekadar label, namun memiliki implikasi besar terhadap kapasitas penyaluran kredit, batasan operasional, serta tingkat kepercayaan nasabah.
Berikut adalah pembagian kategori KBMI yang berlaku di Indonesia:
KBMI I: Bank dengan modal inti sampai dengan Rp6 triliun.
KBMI II: Bank dengan modal inti di atas Rp6 triliun sampai dengan Rp14 triliun.
KBMI III: Bank dengan modal inti di atas Rp14 triliun sampai dengan Rp70 triliun.