DWJ Manajement - PORTAL

Bos BI Beri Peringatan, Mata Uang Dunia Tengah Hadapi "Strong Dollar"

Oleh: DWJ-Manajement • 28 Sep 2026
Bos BI Beri Peringatan, Mata Uang Dunia Tengah Hadapi "Strong Dollar"

Waspada Fenomena 'Strong Dollar', Gubernur Bank Indonesia Beri Peringatan Keras Terkait Stabilitas Mata Uang Global

Penguatan dolar Amerika Serikat terhadap mata uang dunia memicu kekhawatiran akan volatilitas pasar keuangan dan tekanan pada ekonomi negara berkembang.

Dinamika pasar keuangan global tengah memasuki fase yang penuh ketidakpastian. Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, memberikan peringatan serius mengenai fenomena penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang tengah melanda berbagai mata uang di dunia. Fenomena yang dikenal dengan istilah "Strong Dollar" ini diprediksi akan membawa dampak sistemik terhadap stabilitas nilai tukar, terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Dalam pernyataan terbarunya, Destry menekankan bahwa pergerakan dolar AS yang agresif bukan sekadar angka di papan bursa, melainkan sebuah sinyal adanya pergeseran besar dalam arus modal global. Penguatan mata uang Paman Sam ini terjadi di tengah kondisi ekonomi global yang masih dibayangi oleh berbagai risiko, mulai dari kebijakan suku bunga di Amerika Serikat hingga ketegangan geopolitik yang belum mereda.

Mengapa Dolar AS Menguat Secara Agresif?

Fenomena penguatan dolar AS tidak terjadi tanpa alasan yang fundamental. Para analis ekonomi melihat adanya kombinasi faktor yang mendorong investor untuk kembali memegang dolar sebagai aset aman (safe-haven asset). Beberapa faktor utama yang menggerakkan roda penguatan ini antara lain:

Kebijakan Moneter The Fed: Ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjadi penggerak utama. Jika inflasi di AS tetap persisten, kemungkinan adanya suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer) akan menarik modal masuk ke pasar keuangan AS.

Resiliensi Ekonomi Amerika Serikat: Data ekonomi AS yang secara mengejutkan tetap menunjukkan kekuatan, terutama di sektor ketenagakerjaan dan konsumsi rumah tangga, membuat dolar tetap diminati dibandingkan mata uang negara lain yang ekonominya cenderung melambat.

Ketidakpastian Geopolitik: Konflik di berbagai belahan dunia seringkali memicu sentimen "risk-off", di mana investor cenderung menarik dana mereka dari pasar negara berkembang yang berisiko tinggi dan memindahkannya ke aset-aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika.

Diferensiasi Suku Bunga: Selisih tingkat suku bunga antara AS dengan negara-negara lain membuat imbal hasil (yield) dalam denominasi dolar menjadi jauh lebih menarik bagi pemegang modal global.