DWJ Manajement - PORTAL

Bos Danantara Sebut Butuh Rp100 T Buat Bersihkan 'Dosa Lama' BUMN

Oleh: DWJ-Manajement 24 Aug 2026
Bos Danantara Sebut Butuh Rp100 T Buat Bersihkan 'Dosa Lama' BUMN

Bos Danantara Sebut Butuh Rp100 Triliun untuk Bersihkan 'Dosa Lama' BUMN: Fokus Perbaiki Kinerja Keuangan

Langkah drastis dilakukan Danantara untuk merestrukturisasi perusahaan plat merah yang masih terjerat masalah keuangan kronis demi menciptakan fondasi ekonomi yang lebih sehat.

Badan Pengelola Investasi Danantara tengah menghadapi tantangan besar dalam menjalankan mandat barunya. Dalam sebuah pernyataan strategis, pimpinan Danantara mengungkapkan bahwa lembaga ini membutuhkan dukungan dana sekitar Rp100 triliun untuk melakukan pembersihan terhadap apa yang disebut sebagai "dosa lama" di tubuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

"Dosa lama" yang dimaksud merujuk pada akumulasi beban keuangan, utang yang menumpuk, hingga inefisiensi operasional yang telah berlangsung selama bertahun-tahun di sejumlah perusahaan plat merah. Langkah ini dinilai krusial agar Danantara dapat menjalankan fungsinya sebagai pengelola investasi yang profesional dan kompetitif di kancah global.

Menguak Makna 'Dosa Lama' di Tubuh BUMN

Istilah "dosa lama" yang dilontarkan oleh pihak Danantara bukanlah sekadar metafora belaka. Dalam konteks manajemen keuangan korporasi, istilah tersebut menggambarkan kondisi struktural yang menghambat pertumbuhan perusahaan. Beberapa persoalan utama yang menjadi fokus pembersihan ini meliputi:

Beban Utang yang Tinggi: Banyak BUMN yang memiliki rasio utang terhadap ekuitas yang tidak sehat akibat ekspansi yang tidak terukur di masa lalu.

Inefisiensi Operasional: Struktur organisasi yang gemuk dan proses bisnis yang birokratis menyebabkan kebocoran anggaran dan tingginya biaya operasional.

Aset Tidak Produktif: Adanya sejumlah aset yang tidak lagi memberikan nilai tambah secara ekonomi, namun tetap membebani neraca keuangan perusahaan.

Kinerja Keuangan Negatif: Sejumlah anak perusahaan maupun induk BUMN yang secara konsisten mencatatkan kerugian, sehingga menggerus modal negara.