Tak Hanya untuk Pangan, Tepung Singkong Kini Jadi Senjata BRIN Padamkan Kebakaran Hutan
Terobosan ramah lingkungan dari peneliti BRIN untuk tingkatkan efektivitas pemadaman api di lahan gambut dan hutan.
Indonesia setiap tahunnya menghadapi tantangan besar terkait bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Asap yang dihasilkan tidak hanya merugikan kesehatan masyarakat, tetapi juga berdampak buruk pada ekonomi nasional dan hubungan diplomatik antarnegara. Di tengah upaya mencari solusi yang lebih efektif dan berkelanjutan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan sebuah inovasi yang cukup mengejutkan: pemanfaatan tepung singkong sebagai bahan tambahan pemadam api.
Inovasi ini bukan sekadar eksperimen laboratorium, melainkan sebuah upaya strategis untuk mengatasi kelemahan metode pemadaman konvensional yang selama ini digunakan di lapangan. Dengan memanfaatkan karakteristik alami pati singkong, BRIN mencoba menciptakan agen pemadam yang mampu bekerja lebih optimal di medan yang sulit seperti lahan gambut.
Mengapa Tepung Singkong? Memahami Logika di Balik Inovasi BRIN
Selama ini, pemadaman karhutla sangat bergantung pada ketersediaan air dalam jumlah besar. Namun, tantangan utama di lapangan adalah tingkat penguapan yang sangat tinggi, terutama saat cuaca ekstrem atau musim kemarau panjang. Air yang disemprotkan ke titik api seringkali menguap sebelum sempat menjenuhkan material organik yang terbakar, terutama pada lahan gambut yang sangat kering.
Di sinilah peran teknologi tepung singkong masuk. Para peneliti di BRIN menemukan bahwa penambahan komponen berbasis pati (starch) dari singkong ke dalam campuran air dapat mengubah viskositas atau kekentalan air tersebut. Berikut adalah beberapa alasan teknis mengapa tepung singkong menjadi pilihan yang sangat potensial:
Meningkatkan Retensi Air: Tepung singkong bertindak sebagai pengental alami. Dengan viskositas yang lebih tinggi, air tidak mudah menguap secara instan saat menyentuh permukaan panas, sehingga memberikan waktu lebih lama bagi air untuk meresap ke dalam lapisan tanah atau gambut.
Efek Penutupan (Smothering Effect): Saat campuran air dan tepung singkong menyentuh api, ia membentuk lapisan tipis yang mampu menutup akses oksigen ke titik api. Tanpa oksigen, proses pembakaran akan terhenti secara signifikan.