DWJ Manajement - PORTAL

Cara DBS Menilai Risiko Aset ICE di Tengah Transisi EV

Oleh: DWJ-Manajement 16 Sep 2026
Cara DBS Menilai Risiko Aset ICE di Tengah Transisi EV

```html

Strategi DBS Kelola Risiko Aset Kendaraan Bensin di Tengah Gempuran Mobil Listrik (EV)

Strategi DBS Kelola Risiko Aset Kendaraan Bensin di Tengah Gempuran Mobil Listrik (EV)

Mengelola transisi energi tanpa mengorbankan stabilitas portofolio pembiayaan otomotif di tengah pergeseran teknologi global.

Dunia otomotif global sedang berada di persimpangan jalan yang krusial. Pergeseran paradigma dari kendaraan bermesin pembakaran internal atau Internal Combustion Engine (ICE) menuju kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) bukan lagi sekadar tren, melainkan sebuah keniscayaan yang didorong oleh kebijakan iklim global dan inovasi teknologi. Namun, di balik optimisme elektrifikasi, tersimpan tantangan besar bagi sektor keuangan, khususnya perbankan, dalam mengelola risiko aset yang berkaitan dengan teknologi lama.

DBS Indonesia, salah satu pemain utama dalam sektor perbankan regional, secara terbuka memaparkan bagaimana mereka menavigasi kompleksitas ini. Bank tidak hanya dituntut untuk mendanai masa depan yang hijau, tetapi juga harus memastikan bahwa portofolio pembiayaan mereka terhadap industri otomotif saat ini tetap sehat dan terukur risikonya.

Dilema Transisi Energi: Risiko Aset ICE yang Semakin Nyata

Bagi institusi perbankan, kendaraan berbasis bensin dan diesel (ICE) merupakan tulang punggung portofolio pembiayaan otomotif selama puluhan tahun. Namun, penetrasi kendaraan listrik yang masif membawa risiko baru yang dikenal sebagai risiko transisi. Risiko ini mencakup perubahan regulasi, perubahan selera pasar, hingga potensi penurunan nilai aset secara drastis.

Salah satu kekhawatiran terbesar dalam industri keuangan adalah munculnya stranded assets atau aset terbengkalai. Dalam konteks otomotif, hal ini merujuk pada aset-aset yang berkaitan dengan teknologi ICE yang nilainya jatuh atau tidak lagi produktif karena perubahan kebijakan lingkungan atau pergeseran permintaan pasar yang mendadak. Jika sebuah perusahaan otomotif terlalu bergantung pada teknologi ICE tanpa rencana transisi yang jelas, maka kemampuan mereka untuk membayar kembali pinjaman bank dapat terancam di masa depan.

DBS Indonesia menyadari bahwa menilai risiko tidak lagi bisa dilakukan hanya dengan melihat laporan keuangan tradisional. Ada dimensi baru yang harus dimasukkan ke dalam kalkulasi kredit, yaitu kesiapan perusahaan dalam menghadapi perubahan ekosistem energi.

Mengapa Penilaian Risiko Tradisional Tidak Lagi Cukup?