Dolar AS Meroket, Rupiah Terancam Tembus Level Psikologis Rp 18.000
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin nyata seiring dengan penguatan tajam mata uang Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin (28/9/2026). Indikasi pergerakan dolar yang semakin mendekati angka psikologis Rp 18.000 memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan pengamat ekonomi nasional.
Sentimen Global Dorong Penguatan Dolar AS secara Agresif
Pada pembukaan pasar hari ini, indeks dolar AS (DXY) menunjukkan tren penguatan yang signifikan dibandingkan dengan mata uang utama lainnya di dunia. Kondisi ini secara langsung memberikan tekanan jual terhadap rupiah, yang membuat nilai tukar mata uang Garuda bergerak melemah ke arah level Rp 18.000 per dolar AS.
Beberapa faktor utama yang disinyalir menjadi pemicu utama reli dolar AS antara lain adalah:
Kebijakan Moneter The Fed: Adanya ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve yang tetap agresif dalam menahan suku bunga tinggi untuk memerangi inflasi di Amerika Serikat.
Ketidakpastian Geopolitik: Ketegangan di berbagai belahan dunia mendorong investor untuk beralih ke aset aman (safe haven), di mana dolar AS tetap menjadi pilihan utama di tengah risiko global.
Data Ekonomi AS yang Solid: Rilis data ketenagakerjaan dan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi memperkuat kepercayaan investor terhadap ketahanan ekonomi AS.
Aliran Modal Keluar (Capital Outflow): Melemahnya nilai tukar mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, akibat perpindahan dana investor global kembali ke pasar Amerika Serikat.
Dampak Psikologis Angka Rp 18.000 bagi Pasar