HOKI Buka Suara Terkait Isu Produk Beras Fortifikasi ‘Abal-Abal’: Perusahaan Pastikan Kepatuhan Standar Gizi
Menanggapi tuduhan ketidaksesuaian antara klaim nutrisi dan label kemasan pada produk beras fortifikasi, emiten pangan PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) memberikan klarifikasi resmi guna menjaga kepercayaan publik dan pemegang saham.
Klarifikasi PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) Terkait Isu Labeling
Industri pangan nasional tengah dikejutkan dengan munculnya isu mengenai kualitas produk beras fortifikasi yang diduga tidak sesuai dengan klaim gizi yang tertera pada kemasan. Isu yang menyebut produk tersebut sebagai produk "abal-abal" ini menyeret nama salah satu pemain besar di sektor beras, yakni PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI).
Menanggapi situasi tersebut, pihak manajemen PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) akhirnya memberikan pernyataan resmi. Perusahaan mengakui bahwa produk beras fortifikasi milik perseroan memang termasuk dalam kelompok produk yang ikut terjaring dalam temuan ketidaksesuaian tersebut. Ketidaksesuaian yang dimaksud berkaitan dengan klaim kandungan gizi yang tertera pada label kemasan dengan realitas kandungan nutrisi di dalam produk.
Dalam keterangannya, perusahaan menjelaskan bahwa isu ini bermula dari pemeriksaan terhadap standarisasi fortifikasi pangan. Fortifikasi sendiri merupakan proses penambahan mikronutrien esensial ke dalam bahan pangan untuk meningkatkan kualitas nutrisi masyarakat. Namun, ketika klaim pada label tidak selaras dengan hasil uji laboratorium, hal ini memicu reaksi keras dari regulator maupun konsumen.
Memahami Pentingnya Beras Fortifikasi dan Standar Labeling
Beras fortifikasi merupakan salah satu instrumen penting dalam program pemerintah untuk mengatasi masalah malnutrisi dan stunting di Indonesia. Dengan menambahkan zat besi, asam folat, vitamin B12, dan zinc ke dalam beras, pemerintah berharap dapat meningkatkan status gizi masyarakat secara massal melalui konsumsi makanan pokok.
Namun, di balik manfaat besarnya, terdapat tanggung jawab hukum dan etika yang sangat berat bagi produsen. Labeling atau pelabelan bukan sekadar informasi visual, melainkan janji kualitas kepada konsumen. Berikut adalah beberapa poin penting mengapa akurasi label pada produk fortifikasi sangat krusial:
Kepercayaan Konsumen: Konsumen yang membeli beras fortifikasi biasanya adalah kelompok yang sangat peduli terhadap kesehatan atau program bantuan sosial pemerintah yang spesifik. Ketidaksesuaian label dapat merusak kepercayaan publik terhadap seluruh industri pangan.
Pemenuhan Standar Regulasi: Setiap klaim gizi pada kemasan harus melalui uji validasi yang ketat sesuai dengan regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Standar Nasional Indonesia (SNI).
Efektivitas Program Gizi: Jika kandungan gizi yang dijanjikan tidak tersedia dalam produk, maka tujuan intervensi gizi nasional untuk menurunkan angka stunting tidak akan tercapai secara optimal.