DWJ Manajement - PORTAL

IHSG Anjlok Leih dari 1%, Ini Penyebabnya

Oleh: DWJ-Manajement 24 Sep 2026
IHSG Anjlok Leih dari 1%, Ini Penyebabnya

IHSG Terperosok Tajam! Anjlok Lebih dari 1 Persen, Sektor Material dan Real Estate Jadi Biang Kerok

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi signifikan pada perdagangan Rabu (24/9/2026), dipicu oleh tekanan jual masif di sektor material dan real estate.

Pasar modal Indonesia kembali diguncang volatilitas tinggi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan yang cukup tajam pada penutupan perdagangan Rabu, 24 September 2026. Berdasarkan data pasar, indeks merosot sebesar 1,04 persen, yang membawa posisi IHSG ke level 6.308,39.

Penurunan ini menjadi salah satu koreksi harian paling signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Para pelaku pasar tampak menahan diri, sementara aksi ambil untung (profit taking) dan tekanan jual dari sektor-sektor tertentu mendominasi pergerakan indeks sejak pembukaan pasar hingga penutupan.

Detail Pergerakan IHSG: Tekanan Jual yang Tak Terbendung

Sepanjang sesi perdagangan, IHSG sebenarnya sempat menunjukkan upaya untuk bertahan di zona hijau pada menit-menit awal. Namun, tren negatif mulai terlihat jelas saat memasuki tengah hari, di mana volume transaksi meningkat seiring dengan aksi jual yang dilakukan oleh investor institusi maupun ritel.

Penurunan ke level 6.308,39 ini menandakan bahwa sentimen pasar sedang berada dalam fase defensif. Ketidakpastian ekonomi dan pergeseran alokasi aset membuat investor cenderung memilih untuk mengamankan modal mereka, yang berdampak langsung pada tekanan terhadap harga saham-saham blue chip maupun saham lapis kedua.

Beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap pelemahan indeks ini meliputi:

Tekanan Jual Sektor Material: Penurunan tajam pada emiten berbasis komoditas dan bahan bangunan.

Koreksi Sektor Real Estate: Sentimen negatif yang menghantam grup properti dan pengembang besar.

Arus Modal Keluar: Adanya indikasi aliran dana asing yang mulai keluar dari pasar ekuitas domestik.

Sentimen Makroekonomi: Kekhawatiran investor terhadap stabilitas inflasi dan kebijakan suku bunga mendatang.