IHSG Berhasil Tembus Level 6.462, Sektor Konsumer dan Energi Jadi Motor Penggerak di Tengah Bayang-bayang The Fed
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang cukup impresif pada penutupan perdagangan sesi II, Rabu (17/9/2026). Di tengah tekanan sentimen global terkait kebijakan moneter ketat dari Amerika Serikat, bursa domestik justru berhasil mencatatkan penguatan yang solid.
IHSG ditutup menguat sebesar 0,40% ke level 6.462. Kenaikan ini memberikan angin segar bagi para investor setelah sebelumnya sempat mengalami volatilitas tinggi akibat ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).
Melawan Tekanan Kebijakan Moneter The Fed
Kenaikan IHSG pada hari ini tergolong cukup mengejutkan bagi sebagian analis, mengingat tekanan yang datang dari pasar global. Kebijakan The Fed yang cenderung mempertahankan atau bahkan meningkatkan suku bunga untuk menekan inflasi di Amerika Serikat biasanya memberikan tekanan pada pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.
Kenaikan suku bunga di Amerika Serikat secara teoretis dapat memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar saham Indonesia menuju aset-aset berbasis Dollar AS yang dianggap lebih aman. Namun, pada perdagangan kali ini, pasar domestik menunjukkan resiliensi yang luar biasa. Investor lokal tampaknya tetap optimis terhadap fundamental ekonomi dalam negeri, yang mampu meredam sentimen negatif dari luar negeri.
Beberapa faktor yang diduga kuat menjadi penyebab ketahanan IHSG antara lain:
Stabilitas Nilai Tukar Rupiah: Meski dihantam sentimen global, stabilitas rupiah membantu menjaga kepercayaan investor asing.
Kinerja Emiten Domestik: Banyaknya emiten yang melaporkan kinerja yang stabil di tengah ketidakpastian ekonomi.
Aksi Beli Investor Domestik: Dominasi investor ritel dan institusi lokal yang bertindak sebagai bantalan saat tekanan jual asing meningkat.