DWJ Manajement - PORTAL

Malaysia Punya 15 Ribu Desa, Kenapa Malah Belajar ke RI?

Oleh: DWJ-Manajement 17 Sep 2026
Malaysia Punya 15 Ribu Desa, Kenapa Malah Belajar ke RI?

Malaysia Belajar dari Indonesia: Mengapa 15 Ribu Desa Malaysia Kini Menjadi Fokus Kerja Sama Strategis?

Langkah besar diambil kedua negara melalui penandatanganan MoU pengembangan perdesaan yang berfokus pada ekonomi dan transformasi digital.

Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Malaysia memasuki babak baru yang sangat krusial dalam bidang pembangunan ekonomi kerakyatan. Secara mengejutkan, Malaysia—negara tetangga yang sering dianggap lebih maju secara infrastruktur perkotaan—kini justru menaruh minat besar untuk mempelajari model pengembangan perdesaan yang diterapkan oleh Pemerintah Indonesia.

Melalui penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) baru-baru ini, kedua negara sepakat untuk menjalin kerja sama strategis dalam pengembangan wilayah perdesaan. Fokus utamanya bukan lagi sekadar bantuan teknis konvensional, melainkan pada penguatan ekonomi berbasis lokal dan akselerasi teknologi digital di pelosok negeri.

Langkah ini memicu pertanyaan besar di kalangan pengamat ekonomi: Mengapa Malaysia, yang memiliki sekitar 15 ribu desa, justru memilih Indonesia sebagai mitra belajar dalam urusan pembangunan desa?

Paradoks Pembangunan: Mengapa Indonesia Menjadi Kiblat Desa?

Selama satu dekade terakhir, Indonesia telah melakukan eksperimen besar-besaran dalam pembangunan wilayah melalui kebijakan "Membangun dari Pinggiran". Salah satu instrumen paling kuat yang dimiliki Indonesia adalah Dana Desa, sebuah kebijakan fiskal yang mengalirkan dana langsung ke tingkat pemerintahan terkecil untuk menggerakkan ekonomi lokal.

Meskipun Malaysia memiliki stabilitas ekonomi yang kuat, tantangan yang mereka hadapi dalam mengelola disparitas antara wilayah urban dan rural (perdesaan) cukup kompleks. Dengan jumlah desa yang mencapai 15 ribu, Malaysia memerlukan model manajemen yang mampu menyentuh akar rumput secara efisien tanpa kehilangan konektivitas dengan pusat ekonomi nasional.

Indonesia dianggap memiliki pengalaman "lapangan" yang lebih luas dalam mengelola kompleksitas geografis dan demografis desa yang sangat masif. Beberapa faktor utama yang membuat Indonesia menjadi rujukan meliputi:

Sistem Tata Kelola Dana Desa: Keberhasilan Indonesia dalam mendistribusikan anggaran secara masif langsung ke tingkat desa telah menciptakan kemandirian finansial di banyak daerah.

Penguatan Kelembagaan Desa: Adanya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang kini mulai bertransformasi menjadi entitas bisnis profesional di tingkat lokal.