DWJ Manajement - PORTAL

Pakar Jelaskan Kenapa Bogor Semakin Panas dan Tak Sedingin Dulu

Oleh: DWJ-Manajement 06 Jul 2026
Pakar Jelaskan Kenapa Bogor Semakin Panas dan Tak Sedingin Dulu

Mengapa Bogor Tak Lagi Sejuk? Pakar Ungkap Penyebab Kota Hujan Semakin Panas

Dampak perubahan iklim, urbanisasi masif, dan fenomena El Nino menjadi pemicu utama meningkatnya suhu udara di Kota Bogor.

Bagi masyarakat yang tumbuh besar di Bogor, ingatan tentang kota ini selalu lekat dengan suasana yang sejuk, kabut tipis di pagi hari, dan rintik hujan yang memberikan kenyamanan. Bogor, yang secara historis dijuluki sebagai "Kota Hujan", selama puluhan tahun menjadi destinasi pelarian utama bagi warga Jakarta yang ingin mencari kesegaran udara.

Namun, realitas yang dirasakan saat ini menunjukkan hal yang berbeda. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak warga mengeluhkan suhu udara di Bogor yang terasa semakin menyengat. Rasa gerah yang sebelumnya jarang ditemukan, kini menjadi keluhan sehari-hari. Fenomena ini bukan sekadar perasaan subjektif atau nostalgia semata, melainkan sebuah fakta ilmiah yang sedang terjadi.

Menanggapi keresahan warga, sejumlah pakar lingkungan, termasuk dari Institut Pertanian Bogor (IPB), mulai membedah faktor-faktor yang menyebabkan pergeseran iklim mikro di kota ini. Ada kombinasi kompleks antara faktor global dan faktor lokal yang bekerja secara bersamaan, mengubah karakter Bogor dari kota yang dingin menjadi kota yang semakin panas.

Faktor Global: Perubahan Iklim dan Fenomena El Nino

Penyebab pertama yang tidak bisa dipisahkan adalah perubahan iklim global. Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer bumi menyebabkan suhu rata-rata planet ini terus meningkat. Bogor, sebagai bagian dari ekosistem global, tidak luput dari dampak pemanasan global ini.

Selain perubahan iklim yang bersifat jangka panjang, adanya fenomena cuaca ekstrem seperti El Nino juga memperparah kondisi di Bogor. El Nino adalah fenomena alam yang menyebabkan peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik, yang berdampak pada berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat.

Beberapa dampak yang dirasakan akibat fenomena ini antara lain:

Penurunan Intensitas Hujan: Meskipun masih disebut Kota Hujan, frekuensi hujan yang terjadi kini tidak seintens atau sesering dulu.

Musim Kemarau yang Lebih Panjang: Durasi musim kemarau yang memanjang menyebabkan kelembapan udara menurun dan suhu udara meningkat secara signifikan.

Kekeringan Tanah: Tanah yang kering kehilangan kemampuannya untuk melepaskan uap air yang dapat mendinginkan suhu udara di sekitarnya.

Urbanisasi dan Alih Fungsi Lahan yang Masif

Jika perubahan iklim adalah faktor global, maka urbanisasi adalah faktor lokal yang paling nyata dampaknya bagi Bogor. Pertumbuhan penduduk yang pesat di wilayah Bogor telah memicu alih fungsi lahan secara besar-besaran. Lahan yang dulunya merupakan hutan kota, area perkebunan, atau daerah resapan air, kini telah berubah menjadi kawasan pemukiman, ruko, dan pusat perbelanjaan.

Pakar menjelaskan bahwa setiap jengkal tanah yang tertutup oleh semen, aspal, atau beton akan mengubah cara lingkungan tersebut berinteraksi dengan panas matahari. Pohon-pohon yang dulunya berfungsi sebagai peneduh dan penyerap panas, kini banyak yang ditebang untuk memberikan ruang bagi bangunan baru. Hilangnya vegetasi ini berarti hilangnya proses transpirasi—proses di mana tumbuhan melepaskan uap air ke atmosfer yang secara alami berfungsi mendinginkan suhu udara di sekitarnya.