DWJ Manajement - PORTAL

Pengusaha Buka Suara PHK Tembus 53 Ribu Orang, Ungkap Biang Keroknya

Oleh: DWJ-Manajement • 26 Sep 2026
Pengusaha Buka Suara PHK Tembus 53 Ribu Orang, Ungkap Biang Keroknya

Badai PHK Tembus 53 Ribu Pekerja, APINDO Bongkar 'Biang Kerok' di Balik Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja

Jakarta - Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Indonesia kini tengah memasuki fase yang mengkhawatirkan. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah pekerja yang kehilangan mata pencaharian telah menembus angka 53 ribu orang. Fenomena ini menjadi alarm keras bagi stabilitas ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat luas.

Menanggapi situasi kritis tersebut, Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) akhirnya angkat bicara. Pihak pengusaha menegaskan bahwa langkah PHK bukanlah pilihan utama yang diinginkan oleh pelaku industri. Namun, berbagai tekanan hebat dari faktor eksternal maupun internal memaksa banyak perusahaan untuk mengambil keputusan pahit demi menjaga keberlangsungan bisnis agar tidak gulung tikar secara total.

Tekanan Ekonomi Global yang Tidak Menentu

Salah satu faktor utama yang menjadi "biang kerok" di balik meningkatnya angka PHK adalah kondisi ketidakpastian ekonomi global. APINDO mengungkapkan bahwa volatilitas ekonomi di kancah internasional memberikan dampak domino yang sangat terasa hingga ke pasar domestik.

Ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia, seperti konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina, telah mengganggu rantai pasok global. Hal ini berdampak langsung pada lonjakan harga komoditas energi dan bahan baku industri. Ketika biaya produksi membengkak akibat mahalnya bahan baku impor, margin keuntungan perusahaan semakin tergerus.

Selain itu, kebijakan moneter ketat yang diterapkan oleh bank-bank sentral di berbagai negara maju, termasuk kenaikan suku bunga, turut memperparah kondisi. Suku bunga yang tinggi membuat biaya pinjaman modal bagi perusahaan menjadi lebih mahal. Banyak perusahaan yang sebelumnya mengandalkan kredit untuk ekspansi atau operasional, kini harus berjuang keras hanya untuk menutupi biaya bunga, yang pada akhirnya memaksa mereka melakukan efisiensi besar-besaran, termasuk pengurangan tenaga kerja.

Penurunan Daya Beli Masyarakat sebagai Pemicu Utama

Tidak hanya faktor dari luar negeri, tekanan dari dalam negeri juga menjadi penyebab signifikan. APINDO menyoroti adanya penurunan daya beli masyarakat yang cukup drastis. Ketika daya beli melemah, permintaan terhadap barang dan jasa di pasar menurun secara tajam.

Kondisi ini menciptakan siklus yang berbahaya bagi sektor manufaktur dan ritel. Penurunan permintaan berarti stok barang menumpuk di gudang, pendapatan perusahaan menurun, dan arus kas (cash flow) menjadi tersendat. Dalam kondisi di mana pendapatan tidak lagi mampu menutup biaya operasional tetap, pengurangan jumlah karyawan menjadi jalan terakhir yang diambil pengusaha untuk menghindari kebangkrutan total.

Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab melemahnya daya beli antara lain: