PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) terus mempercepat langkah ekspansi bisnisnya di sektor energi baru terbarukan (EBT). Emiten panas bumi terkemuka ini secara resmi melaporkan perkembangan terbaru terkait aktivitas operasional hulu mereka, yakni penyelesaian pengeboran lima sumur panas bumi yang tersebar di tiga wilayah kerja strategis.Langkah progresif ini menjadi bukti komitmen berkelanjutan perseroan dalam mengoptimalkan pemanfaatan fluida hidrotermal di Indonesia. Melalui pengeboran ini, PGEO menargetkan peningkatan cadangan uap sekaligus menjaga keandalan pasokan listrik hijau ke jaringan transmisi nasional.Manajemen PGEO menegaskan bahwa seluruh proses pengeboran dilaksanakan dengan standar keselamatan kerja dan keunggulan operasional yang ketat. Upaya ini diproyeksikan mampu memberikan kontribusi langsung terhadap peningkatan kapasitas terpasang perseroan dalam jangka menengah maupun panjang.Detail Pengeboran dan Sebaran Tiga Wilayah KerjaAktivitas pengeboran lima sumur tersebut mencakup kombinasi antara sumur produksi (production well) dan sumur injeksi kembali (reinjection well). Pendekatan ini diterapkan untuk memastikan keberlanjutan reservoir uap air panas bawah tanah secara optimal.Tiga wilayah kerja yang menjadi fokus kegiatan pengeboran ini merupakan aset-aset andalan perseroan yang memiliki potensi entalpi tinggi. Wilayah operasional tersebut dipilih berdasarkan evaluasi geologi, geofisika, dan geokimia (3G) yang komprehensif guna meminimalkan risiko ketidakpastian bawah permukaan.Adapun rincian fokus operasional di ketiga wilayah tersebut meliputi beberapa aspek penting:Optimalisasi sumur produksi untuk menambah suplai uap langsung menuju Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).Penguatan sumur injeksi guna menjaga kesetimbangan hidrologis dan mencegah penurunan tekanan reservoir secara drastis.Implementasi teknologi pemantauan lubang sumur secara digital (real-time well logging) guna membaca karakteristik formasi batuan secara presisi.Keberhasilan eksekusi di tiga area kerja ini sekaligus mempertegas kapabilitas teknis tim internal PGEO dalam mengelola proyek geotermal berskala besar dengan tingkat kerumitan geologis yang tinggi.Dukungan Belanja Modal dan Efisiensi OperasionalPenyelesaian pengeboran lima sumur ini didukung oleh alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) yang terukur dan disiplin. Perseroan secara konsisten mengutamakan efisiensi biaya pengeboran (drilling cost) per meter kedalaman tanpa mengorbankan faktor keselamatan kerja.PGEO juga memanfaatkan inovasi teknik pengeboran terkini, termasuk pemilihan lumpur pemboran yang ramah lingkungan serta adaptif terhadap temperatur tinggi. Hal ini bertujuan untuk meminimalisasi potensi gangguan teknis, seperti hilang sirkulasi lumpur (lost circulation) yang kerap menjadi tantangan utama pada formasi vulkanik.Efisiensi yang diraih dalam program pengeboran ini diharapkan dapat menjaga tingkat pengembalian investasi (internal rate of return/IRR) proyek tetap menarik. Dengan struktur biaya yang kompetitif, portofolio aset panas bumi perseroan memiliki daya saing yang kuat di tengah dinamika pasar energi.Memperkuat Posisi Pemimpin Pasar Geotermal NasionalSebagai pemain dominan di sektor panas bumi Indonesia, PGEO saat ini mengelola kapasitas terpasang panas bumi yang signifikan, baik yang dioperasikan secara mandiri (own operation) maupun melalui skema Kontrak Operasi Bersama (Joint Operation Contract/JOC).Tambahan potensi kapasitas dari lima sumur baru ini diproyeksikan akan memperkuat kepemimpinan pasar perseroan. Di samping itu, inisiatif ini sejalan dengan peta jalan jangka panjang PGEO untuk mencapai kapasitas terpasang mandiri hingga 1 gigawatt (GW) dalam beberapa tahun ke depan.Pertumbuhan kapasitas yang berkelanjutan dinilai krusial tidak hanya untuk kinerja finansial perusahaan, tetapi juga untuk memberikan pasokan energi baseload yang andal. Berbeda dengan pembangkit listrik tenaga surya atau bayu yang bersifat intermiten, panas bumi menawarkan faktor kapasitas (capacity factor) di atas 90 persen.Peluang Monetisasi dan Hilirisasi Panas BumiSelain fokus pada pembangkitan listrik konvensional, PGEO juga terus menjajaki berbagai peluang inovasi hilirisasi panas bumi (beyond energy). Penambahan kapasitas uap membuka jalan bagi pengembangan bisnis turunan yang memiliki nilai tambah tinggi.Beberapa inisiatif strategis hilirisasi yang tengah dikaji dan dikembangkan antara lain:Pemanfaatan uap sisa (brine) untuk sistem pembangkit siklus biner (binary power plant).Pengembangan hidrogen hijau (green hydrogen) dengan memanfaatkan listrik dan air panas bumi murni.Penyediaan energi panas langsung (direct use) untuk sektor agroindustri dan pariwisata di sekitar area operasional.Penerapan mekanisme kredit karbon untuk menambah diversifikasi pendapatan perseroan di pasar domestik maupun internasional.Diversifikasi ini diharapkan menjadi mesin pertumbuhan baru (new growth engine) yang dapat menopang stabilitas pendapatan PGEO di masa depan.Komitmen Terhadap Aspek ESG dan Net Zero EmissionAktivitas eksplorasi dan eksploitasi panas bumi oleh PGEO senantiasa berlandaskan pada prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Pengeboran ramah lingkungan diterapkan melalui pengelolaan limbah pemboran yang ketat dan konservasi daerah tangkapan air di sekitar wilayah kerja.Secara sosial, perseroan aktif melibatkan masyarakat lokal melalui program pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal. Kemitraan harmonis dengan masyarakat sekitar wilayah operasi dinilai menjadi kunci utama kelancaran operasional jangka panjang.Di tingkat makro, setiap megawatt listrik panas bumi yang berhasil disalurkan ke sistem kelistrikan nasional secara langsung berkontribusi menurunkan intensitas emisi karbon nasional. Inisiatif PGEO ini menjadi bagian integral dari kontribusi Indonesia menuju target Net Zero Emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat.KesimpulanPenyelesaian pengeboran lima sumur panas bumi di tiga wilayah kerja oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menandai capaian operasional yang solid. Keberhasilan ini membuktikan komitmen perseroan dalam menjaga kesinambungan pasokan energi bersih sekaligus memperkuat fundamental bisnisnya secara konsisten.Melalui eksekusi proyek yang terukur, disiplin modal, dan pemanfaatan teknologi modern, PGEO semakin mengukuhkan posisinya sebagai tulang punggung transisi energi hijau di Tanah Air. Langkah strategis ini tidak hanya memperbesar kapasitas pembangkitan, tetapi juga mempertegas prospek positif perseroan sebagai aset berharga dalam ekosistem energi baru terbarukan nasional.
PGEO Laporkan Update Pengeboran 5 Sumur Panas Bumi
Oleh: DWJ-Manajement
•
12 Oct 2026
Halaman 1 dari 1
Rekomendasi Untuk Anda
Teknologi
RI Bidik Peluang Investasi Lewat Penguatan Pasar Karbon di COP31
Oleh: DWJ-Manajement
12 Oct 2026
Teknologi
Harga Minyak Mentah Indonesia Naik, Tembus US$ 112,81/ Barel
Oleh: DWJ-Manajement
12 Oct 2026
Teknologi
Harga Sapi Hidup Tinggi, RI Impor Kerbau Australia
Oleh: DWJ-Manajement
12 Oct 2026
Teknologi
Singapura Sita Rp1,9 T Dana Anak Konglomerat Sawit RI, Ini Pemiliknya
Oleh: DWJ-Manajement
11 Oct 2026
Teknologi
Airlangga Resmikan Pabrik Material Konstruksi Rp 710 M: Ciptakan Lapangan Kerja
Oleh: DWJ-Manajement
11 Oct 2026
Teknologi
Serbu! Alat Masak Banting Harga di Transmart Full Day Sale
Oleh: DWJ-Manajement
11 Oct 2026
Teknologi
BMKG Rilis Peringatan Dini Cuaca Ekstrem: Cek Daftar 15 Wilayah Berpotensi Hujan Lebat Hari Ini
Oleh: DWJ-Manajement
11 Oct 2026
Teknologi
Permintaan Pasar Lesu, Apple Pangkas Pesanan Komponen iPhone 18 Pro hingga 20 Persen
Oleh: DWJ-Manajement
11 Oct 2026