DWJ Manajement - PORTAL

Pramono Mau Terbitkan Obligasi, Purbaya: Kalau Uangnya Banyak buat Apa Utang?

Oleh: DWJ-Manajement 08 Sep 2026
Pramono Mau Terbitkan Obligasi, Purbaya: Kalau Uangnya Banyak buat Apa Utang?

```html

Rencana Pramono Anung Terbitkan Obligasi Jakarta Disentil Purbaya: Kalau Uang Banyak, Buat Apa Utang?

JAKARTA - Rencana Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, untuk melakukan terobosan dalam pembiayaan pembangunan melalui penerbitan obligasi daerah menuai reaksi keras dari kalangan otoritas fiskal. Langkah yang dimaksud Pramono bertujuan untuk mengakselerasi berbagai proyek infrastruktur dan layanan publik di Jakarta, namun ide tersebut justru memicu perdebatan mengenai efisiensi penggunaan anggaran negara.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memberikan catatan kritis terhadap rencana tersebut. Dengan nada skeptis, Purbaya mempertanyakan urgensi dari pengambilan utang baru jika pemerintah daerah sebenarnya masih memiliki kapasitas fiskal yang cukup kuat. Pertanyaan mendasar yang dilontarkan adalah mengenai efektivitas penggunaan instrumen utang di tengah kondisi likuiditas yang dinilai masih memadai.

Dinamika Pembiayaan Pembangunan Jakarta

Pramono Anung, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa Jakarta membutuhkan suntikan dana segar yang besar untuk bertransformasi menjadi kota global. Menurutnya, mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) saja tidak akan cukup untuk mengejar ketertinggalan pembangunan infrastruktur yang masif, mulai dari integrasi transportasi hingga penanganan banjir secara permanen.

Penerbitan obligasi daerah dipandang sebagai solusi strategis untuk mendapatkan pendanaan jangka panjang dengan bunga yang kompetitif. Dengan obligasi, pemerintah daerah dapat mengumpulkan dana dari masyarakat maupun investor institusi untuk membiayai proyek-proyek yang memiliki nilai manfaat jangka panjang (multiplier effect) bagi ekonomi warga Jakarta.

Namun, pandangan ini berbenturan dengan prinsip kehati-hatian fiskal yang dijunjung tinggi oleh Purbaya Yudhi Sadewa. Purbaya menekankan bahwa utang seharusnya menjadi ultimum remedium atau upaya terakhir ketika sumber pendanaan lain benar-benar tidak mencukupi. Ia secara terbuka mempertanyakan logika di balik pengambilan beban bunga baru jika kas daerah masih menunjukkan surplus atau kapasitas yang mumpuni.

Logika Fiskal: Mengapa Utang Menjadi Perdebatan?

Perdebatan antara rencana ekspansi melalui utang dan prinsip konservatisme fiskal ini mencerminkan dua mazhab ekonomi yang berbeda dalam pengelolaan keuangan publik. Di satu sisi, terdapat dorongan untuk melakukan leverage guna mempercepat pertumbuhan, dan di sisi lain, terdapat peringatan mengenai risiko beban bunga yang dapat menekan kesehatan APBD di masa depan.

Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti beberapa poin krusial mengapa rencana obligasi ini perlu dikaji ulang secara mendalam:

Efisiensi Biaya Modal: Mengambil utang berarti pemerintah berkomitmen untuk membayar bunga. Jika APBD masih mampu mendanai proyek secara mandiri, maka menambah utang hanya akan menambah beban biaya bunga yang seharusnya bisa dialokasikan untuk program sosial lainnya.