DWJ Manajement - PORTAL

Ramai Data Desil Tak Sesuai 'Isi Kantong', Luhut: Akan Diperbaiki dengan AI

Oleh: DWJ-Manajement 28 Aug 2026
Ramai Data Desil Tak Sesuai 'Isi Kantong', Luhut: Akan Diperbaiki dengan AI

```html

Benahi Data Bansos yang 'Salah Sasaran', Luhut Pandjaitan Siapkan Integrasi AI untuk Akurasi Desil Masyarakat

Langkah digitalisasi data kementerian diharapkan mampu menyinkronkan klasifikasi ekonomi warga dengan realita ekonomi di lapangan guna memastikan bantuan sosial tepat sasaran.

Persoalan mengenai akurasi data kemiskinan dan klasifikasi ekonomi masyarakat di Indonesia kembali menjadi sorotan tajam. Selama ini, banyak keluhan muncul di tengah masyarakat terkait ketimpangan antara data desil ekonomi yang tercatat oleh pemerintah dengan kondisi riil "isi kantong" warga. Fenomena di mana masyarakat yang secara ekonomi terlihat mampu justru terdaftar sebagai penerima bantuan, atau sebaliknya, masyarakat rentan yang justru terlewatkan, menjadi isu krusial yang menghambat efektivitas program jaring pengaman sosial.

Menanggapi kegaduhan tersebut, Ketua Dewan Energi Nasional (DEN) Luhut Pandjaitan memberikan sinyal kuat bahwa pemerintah tengah menyiapkan langkah radikal untuk membenahi sistem pendataan ini. Solusi yang ditawarkan tidak lagi sekadar pemutakhiran data manual secara berkala, melainkan melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) serta percepatan digitalisasi data di seluruh kementerian.

Masalah Klasifikasi Desil: Mengapa Data Tak Sesuai Realita?

Dalam sistem klasifikasi sosial-ekonomi di Indonesia, istilah "desil" digunakan untuk membagi kelompok masyarakat berdasarkan tingkat kesejahteraan. Desil 1 merujuk pada kelompok 10 persen masyarakat paling miskin, sementara desil yang lebih tinggi menunjukkan kelompok ekonomi yang lebih mapan. Namun, dalam praktiknya, pembagian ini sering kali dianggap tidak mencerminkan kondisi aktual masyarakat.

Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan terjadinya ketidaksesuaian antara data desil dengan daya beli atau kondisi ekonomi riil warga:

Data yang Outdated (Usang): Perubahan status ekonomi seseorang, seperti kehilangan pekerjaan atau kenaikan pendapatan, sering kali tidak terlaporkan secara real-time ke dalam sistem database nasional.

Metode Pengumpulan Data yang Terfragmentasi: Setiap kementerian atau lembaga sering kali memiliki basis data sendiri-sendiri yang tidak terintegrasi secara sempurna, menciptakan tumpang tindih atau bahkan kekosongan data.

Variabel Ekonomi yang Tidak Komprehensif: Penentuan desil sering kali hanya mengandalkan variabel terbatas seperti kepemilikan aset tertentu, tanpa melihat arus kas (cash flow) atau beban pengeluaran rumah tangga yang dinamis.

Human Error dalam Verifikasi Lapangan: Proses pendataan manual di tingkat terbawah terkadang mengalami bias atau kesalahan input yang berujung pada kesalahan klasifikasi.