DWJ Manajement - PORTAL

Rupiah Tertekan, Dolar AS Dekati Level Rp 18.100

Oleh: DWJ-Manajement 28 Jul 2026
Rupiah Tertekan, Dolar AS Dekati Level Rp 18.100

Kurs Rupiah Tertekan Hebat, Dolar AS Bergerak Mendekati Level Psikologis Rp 18.100

Nilai tukar rupiah terus merosot di tengah penguatan masif dolar Amerika Serikat terhadap berbagai mata uang global.

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren pelemahan yang cukup signifikan pada perdagangan hari ini, Selasa (28/7/2026). Berdasarkan data pasar valuta asing, dolar AS terus menunjukkan dominasinya, yang mengakibatkan tekanan depresiasi pada mata uang Garuda. Kondisi ini memicu kekhawatiran di pasar keuangan domestik mengingat dolar AS kini mulai mendekati ambang psikologis Rp 18.100 per dolar AS.

Pada perdagangan pagi ini, rupiah tercatat terpukul cukup dalam. Meskipun sempat mengalami fluktuasi tipis, arah pergerakan mata uang lokal cenderung bergerak ke zona merah. Penguatan dolar AS yang bersifat global seolah tidak memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk melakukan penguatan (apresiasi) dalam beberapa sesi terakhir.

Faktor Utama Pemicu Penguatan Dolar AS

Para analis pasar melihat bahwa tekanan terhadap rupiah bukan semata-mata disebabkan oleh faktor internal ekonomi Indonesia, melainkan lebih didorong oleh sentimen global yang sangat pro-dolar. Ada beberapa faktor krusial yang menjadi motor penggerak kenaikan indeks dolar AS secara global:

Kebijakan Moneter The Fed: Sinyal dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), mengenai kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer) membuat investor lebih memilih menyimpan aset dalam bentuk dolar.

Data Ekonomi AS yang Tangguh: Rilis data tenaga kerja dan angka inflasi di Amerika Serikat yang menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat memberikan legitimasi bagi pasar untuk bertaruh pada penguatan mata uang AS.

Aliran Modal Keluar (Capital Outflow): Menguatnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS menarik minat investor asing untuk menarik modal mereka dari pasar negara berkembang (emerging markets) dan memindahkannya kembali ke instrumen keuangan berbasis dolar.

Ketidakpastian Geopolitik: Ketegangan di berbagai belahan dunia sering kali mendorong investor untuk mencari aset aman (safe haven), di mana dolar AS tetap menjadi pilihan utama di tengah ketidakpastian global.