DWJ Manajement - PORTAL

Rupiah Tertekan, Dolar AS Tembus Rp18.000 Lagi

Oleh: DWJ-Manajement • 29 Sep 2026
Rupiah Tertekan, Dolar AS Tembus Rp18.000 Lagi

Dolar AS Kembali Menembus Rp18.000, Rupiah Tertekan di Tengah Tekanan Global dan Lonjakan Permintaan Valas

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menunjukkan tren pelemahan yang signifikan, menembus level psikologis Rp18.000 pada perdagangan Senin, 29 September 2026. Tekanan ini dipicu oleh kombinasi antara sentimen negatif pasar global dan tingginya permintaan valuta asing di pasar domestik.

Kondisi pasar keuangan global yang tengah mengalami volatilitas tinggi memberikan tekanan berat pada mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Rupiah yang sebelumnya sempat bertahan di zona stabil, kini harus menghadapi kenyataan pahit dengan merosot ke angka Rp18.000 per dolar AS. Fenomena ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terkait stabilitas nilai tukar dan potensi dampak turunannya terhadap inflasi nasional.

Tekanan Global dan Kebutuhan Valas Jadi Pemicu Utama

Bank Indonesia (BI) dalam keterangan resminya menyatakan bahwa pelemahan rupiah saat ini merupakan akumulasi dari berbagai faktor makroekonomi. Menurut otoritas moneter, tekanan tidak hanya datang dari luar negeri, tetapi juga dipicu oleh dinamika permintaan mata uang asing di dalam negeri yang meningkat tajam.

Pelemahan ini dipengaruhi oleh dua kekuatan utama yang bekerja secara simultan. Pertama adalah faktor eksternal yang berkaitan dengan penguatan dolar AS di kancah global, dan kedua adalah faktor internal berupa kebutuhan likuiditas valuta asing oleh pelaku usaha di Indonesia.

Sentimen Pasar Global yang Tak Menentu

Secara global, dolar AS kembali menunjukkan dominasinya. Ketidakpastian kebijakan moneter di Amerika Serikat serta ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed menjadi motor utama penguatan Greenback. Ketika investor global cenderung memilih aset yang dianggap lebih aman (safe haven) seperti dolar AS, mata uang dari negara-negara berkembang seperti rupiah seringkali mengalami arus modal keluar (capital outflow).

Beberapa faktor global yang memperparah kondisi ini meliputi:

Kebijakan Moneter AS: Ketidakpastian mengenai kapan dan seberapa besar perubahan suku bunga yang akan dilakukan oleh bank sentral AS.

Indeks Dolar (DXY): Penguatan indeks dolar terhadap sekeranjang mata uang utama dunia yang menekan mata uang lainnya.

Ketegangan Geopolitik: Konflik di berbagai belahan dunia yang meningkatkan profil risiko aset di pasar berkembang.

Yield Obligasi AS: Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang menarik minat investor untuk memindahkan dana mereka ke pasar Amerika.

Lonjakan Permintaan Valuta Asing di Pasar Domestik