DWJ Manajement - PORTAL

Trump Perpanjang Aturan Biaya Visa Pekerja Asing Rp 1,75 M hingga 2027

Oleh: DWJ-Manajement 19 Sep 2026
Trump Perpanjang Aturan Biaya Visa Pekerja Asing Rp 1,75 M hingga 2027

Trump Perpanjang Aturan Biaya Visa Pekerja Asing hingga 2027, Sektor Teknologi Terancam?

Kebijakan proteksionis kembali menguat di Amerika Serikat. Presiden Donald Trump secara resmi memperpanjang perintah eksekutif terkait kenaikan biaya visa non-imigran H-1B, sebuah langkah yang diprediksi akan memberikan tekanan finansial besar bagi perusahaan teknologi raksasa di Silicon Valley.

Amerika Serikat kembali mengambil langkah tegas dalam mengatur arus masuk tenaga kerja asing. Presiden Donald Trump baru saja mengumumkan perpanjangan perintah eksekutif yang mengatur mengenai biaya visa non-imigran H-1B. Kebijakan ini, yang sebelumnya telah memicu kontroversi di kalangan pelaku industri, kini diperpanjang masa berlakunya hingga tahun 2027.

Keputusan ini menandai keberlanjutan dari agenda "America First" yang selama ini diusung oleh pemerintahan Trump. Dengan memperpanjang aturan biaya yang sangat tinggi ini, pemerintah AS secara tidak langsung mengirimkan sinyal kuat kepada korporasi global bahwa penggunaan tenaga kerja asing harus melalui mekanisme biaya yang sangat mahal, guna memberikan ruang lebih besar bagi pekerja domestik Amerika.

Memahami Dampak Perpanjangan Aturan Visa H-1B

Visa H-1B merupakan salah satu jalur paling krusial bagi tenaga kerja ahli di seluruh dunia untuk bekerja di Amerika Serikat, khususnya di sektor teknologi, sains, dan teknik. Visa ini memungkinkan perusahaan untuk mempekerjakan warga negara asing yang memiliki keahlian khusus dalam bidang yang sulit ditemukan di pasar tenaga kerja lokal.

Dengan diperpanjangnya aturan biaya yang mencapai angka signifikan—yang dalam beberapa estimasi setara dengan miliaran rupiah per kuota—perusahaan tidak lagi bisa melihat visa H-1B sebagai instrumen rekrutmen yang murah dan mudah. Berikut adalah beberapa poin utama dampak dari kebijakan ini:

Peningkatan Biaya Operasional: Perusahaan teknologi besar seperti Google, Meta, dan Microsoft harus mengalokasikan anggaran yang jauh lebih besar untuk proses rekrutmen talenta global.

Hambatan bagi Startup: Jika perusahaan raksasa mampu menanggung biaya tersebut, perusahaan rintisan (startup) kecil kemungkinan akan kesulitan bersaing untuk mendapatkan talenta internasional.

Pergeseran Lokasi Kerja: Ada risiko nyata bahwa perusahaan akan mulai memindahkan pusat pengembangan mereka ke luar Amerika Serikat, seperti ke Kanada atau India, guna menghindari beban biaya visa yang mencekik.