```html
WIKA Obral Aset Rp 5,5 Triliun Hingga 2028, Fokus Perkuat Struktur Keuangan dan Likuiditas
JAKARTA - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA, salah satu raksasa konstruksi milik negara, tengah mengambil langkah strategis yang cukup drastis untuk memperkuat kondisi finansialnya. Perusahaan telah merencanakan program divestasi atau pelepasan aset dalam skala besar yang ditaksir mencapai nilai Rp 5,5 triliun hingga tahun 2028 mendatang.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Di tengah tantangan industri konstruksi yang semakin kompleks, WIKA merasa perlu melakukan restrukturisasi portofolio bisnis guna menjaga stabilitas arus kas (cash flow) dan memperbaiki rasio keuangan perusahaan. Divestasi ini akan dilakukan secara bertahap, dimulai sejak tahun ini, dengan menyasar berbagai lini aset yang dianggap bukan merupakan bisnis inti (non-core assets).
Strategi Penyehatan Melalui Pelepasan Aset Non-Core
Dalam rencana jangka panjang tersebut, WIKA tidak hanya akan melepas aset dalam jumlah kecil, melainkan melakukan pembersihan portofolio secara menyeluruh. Aset-aset yang akan dilepas mencakup berbagai sektor yang selama ini menjadi bagian dari ekspansi diversifikasi perusahaan, namun kini dinilai perlu dilepas untuk fokus pada bisnis utama konstruksi.
Beberapa aset yang masuk dalam daftar rencana divestasi tersebut antara lain:
Sektor Perhotelan: WIKA memiliki sejumlah aset properti berupa hotel yang akan dilepas guna mengurangi beban biaya operasional dan pemeliharaan.
Infrastruktur Jalan Tol: Salah satu poin yang paling menarik perhatian adalah rencana pelepasan kepemilikan di sejumlah ruas jalan tol, termasuk yang berlokasi strategis di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Properti dan Real Estate: Selain hotel, pengembangan properti yang tidak memberikan imbal hasil (return) optimal juga akan menjadi sasaran divestasi.
Aset Lainnya: Berbagai aset pendukung lainnya yang dianggap tidak lagi selaras dengan fokus jangka panjang perusahaan konstruksi.