DWJ Manajement - PORTAL

Zulhas Sebut Nelayan RI Miskin: Masuk Desil 1-Ikan Dicuri Asing Rp 200 T/Tahun

Oleh: DWJ-Manajement 16 Sep 2026
Zulhas Sebut Nelayan RI Miskin: Masuk Desil 1-Ikan Dicuri Asing Rp 200 T/Tahun

Ironi Negeri Maritim: Zulhas Sebut Nelayan RI Masuk Desil 1, Kerugian Ikan Dicuri Asing Tembus Rp 200 Triliun per Tahun

JAKARTA – Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan potensi sumber daya laut yang melimpah, kembali menghadapi kenyataan pahit di sektor maritimnya. Di tengah ambisi pemerintah untuk menjadi poros maritim dunia, kesejahteraan para aktor utama di laut, yakni para nelayan, justru berada pada titik yang sangat memprihatinkan.

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, atau yang akrab disapa Zulhas, memberikan sorotan tajam terhadap kondisi ekonomi para nelayan di tanah air. Dalam sebuah pernyataan terbaru, Zulhas mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa kelompok nelayan kita saat ini masuk ke dalam kategori desil satu, yang menandakan mereka berada dalam kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.

Nelayan Masuk Desil 1: Potret Kemiskinan di Tengah Kelimpahan Laut

Pernyataan Zulhas mengenai status "Desil 1" bagi nelayan menjadi alarm keras bagi pemerintah. Secara teknis, desil satu adalah klasifikasi dalam data kemiskinan yang menunjukkan kelompok masyarakat dengan pengeluaran terendah atau kelompok paling miskin dalam struktur ekonomi nasional. Hal ini menciptakan sebuah ironi yang mendalam: mereka yang hidup bersinggungan langsung dengan sumber kekayaan alam terbesar negara, justru menjadi kelompok yang paling kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Kondisi ini diperparah dengan rendahnya Nilai Tukar Nelayan (NTN). Zulhas menyebutkan bahwa nilai tukar nelayan saat ini berada di angka 103. Meski angka ini seringkali dianggap sebagai indikator kemampuan daya beli nelayan, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa fluktuasi harga kebutuhan pokok dan biaya operasional melaut seringkali tidak sebanding dengan pendapatan yang mereka terima dari hasil tangkapan.

Rendahnya NTN ini berdampak langsung pada siklus kemiskinan yang sulit diputus. Ketika pendapatan tidak mampu menutupi biaya solar, perawatan jaring, hingga kebutuhan pangan keluarga, nelayan terpaksa terjebak dalam pola ekonomi subsisten yang tidak memungkinkan mereka untuk melakukan investasi pada alat tangkap yang lebih modern atau teknologi navigasi yang lebih canggih.

Ancaman Pencurian Ikan: Kerugian Negara Rp 200 Triliun per Tahun

Tidak hanya masalah kesejahteraan domestik, sektor perikanan Indonesia juga menghadapi serangan dari luar. Zulhas menyoroti bahwa potensi kekayaan laut yang seharusnya bisa dinikmati oleh nelayan lokal dan menambah devisa negara, justru terus menguap akibat praktik Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing oleh kapal-kapal asing.

Angka kerugian yang dipaparkan sangat fantastis. Diperkirakan, pencurian ikan oleh pihak asing mengakibatkan kerugian ekonomi bagi Indonesia mencapai Rp 200 triliun setiap tahunnya. Kerugian ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan kehilangan kesempatan ekonomi yang masif yang seharusnya bisa dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur pesisir, subsidi BBM nelayan, hingga peningkatan kualitas SDM kelautan.