DWJ Manajement - PORTAL

10 Saham Ini Paling Banyak Diserok Asing Kala IHSG Merah

Oleh: DWJ-Manajement 29 Jun 2026
10 Saham Ini Paling Banyak Diserok Asing Kala IHSG Merah

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI): Efisiensi operasional dan pertumbuhan kredit yang solid menjadikan BMRI salah satu target utama "buy on weakness".

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI): Valuasi yang sering kali dianggap lebih atraktif dibandingkan bank besar lainnya membuat BBNI menarik bagi investor jangka panjang.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM): Sektor telekomunikasi yang defensif membuat TLKM menjadi pilihan aman saat pasar sedang tidak menentu.

PT Astra International Tbk (ASII): Sebagai konglomerasi terbesar di Indonesia, ASII mencerminkan kondisi ekonomi domestik, dan penurunan harganya sering dianggap sebagai peluang beli oleh asing.

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP): Saham sektor konsumsi ini tetap menjadi pilihan defensif karena daya tahan produknya terhadap fluktuasi ekonomi.

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR): Meskipun menghadapi tantangan pertumbuhan, pembalikan arah aliran dana asing pada UNVR menunjukkan adanya ekspektasi pemulihan.

PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT): Dominasi pasar di sektor ritel kebutuhan pokok menjadikan AMRT saham yang menarik untuk diakumulasi saat terjadi koreksi.

PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF): Sebagai induk dari ICBP, INDF menawarkan valuasi yang menarik bagi investor yang mencari eksposur pada sektor consumer goods.

Dominasi Sektor Perbankan dalam Akumulasi Asing

Jika dicermati lebih dalam, sebagian besar saham yang diborong oleh asing berasal dari sektor perbankan (Big Four). Hal ini sangat wajar mengingat sektor keuangan adalah motor penggerak utama IHSG. Perbankan di Indonesia memiliki profil profitabilitas yang sangat tinggi dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan suku bunga. Ketika terjadi aksi jual masif, investor asing cenderung melakukan seleksi ketat, dan mereka hanya memilih saham-saham perbankan dengan kapitalisasi pasar terbesar dan manajemen risiko terbaik.

Akumulasi pada BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI menunjukkan bahwa meskipun ada kekhawatiran terhadap makroekonomi, kepercayaan terhadap sistem perbankan nasional tetap kokoh. Investor asing melihat bahwa penurunan harga saham perbankan saat ini lebih bersifat teknikal akibat tekanan pasar secara umum, bukan karena kerusakan pada fundamental masing-masing bank.

Sektor Defensif: Pelindung di Tengah Volatilitas