DWJ Manajement - PORTAL

16 Pindar Kredit Macetnya Tinggi, OJK Ingatkan Risiko Ini

Oleh: DWJ-Manajement 18 Aug 2026
16 Pindar Kredit Macetnya Tinggi, OJK Ingatkan Risiko Ini

Waspada! 16 Penyelenggara Pinjol Ini Alami Kredit Macet Tinggi, OJK Ingatkan Risiko Gagal Bayar

Meskipun industri mencatat pertumbuhan laba 10,14%, tingginya angka TWP90 di sejumlah platform menjadi alarm bagi para pemberi pinjaman untuk lebih selektif.

Lanskap Fintech Lending: Antara Pertumbuhan Pesat dan Risiko Kredit

Industri teknologi finansial atau fintech lending, yang lebih populer dengan sebutan pinjaman daring (Pindar), tengah menunjukkan wajah ganda yang kontradiktif. Di satu sisi, sektor ini terus menjadi mesin pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dengan angka profitabilitas yang menjanjikan. Namun di sisi lain, bayang-bayang gagal bayar mulai menghantui stabilitas industri ini.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru-baru ini merilis data yang cukup mengejutkan terkait kesehatan kredit di sektor P2P lending. Berdasarkan catatan per Juni 2026, terdapat 16 penyelenggara pinjaman daring yang mencatatkan Tingkat Wanprestasi di atas 90 hari (TWP90) melebihi ambang batas 5 persen. Angka ini menjadi sinyal merah bagi ekosistem pinjaman daring nasional, mengingat TWP90 merupakan salah satu indikator utama kesehatan sebuah platform dalam mengelola risiko kreditnya.

Kondisi ini menciptakan sebuah paradoks ekonomi. Di tengah meningkatnya risiko kredit macet, industri P2P lending secara keseluruhan justru mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 10,14 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Hal ini memicu pertanyaan besar: Bagaimana industri bisa tetap meraup untung di saat risiko gagal bayar sedang merangkak naik?

Bedah Data OJK: Memahami Makna TWP90 di Atas 5 Persen

Bagi para investor atau pemberi pinjaman (lender), istilah TWP90 bukanlah sekadar angka statistik. TWP90 mengukur persentase pinjaman yang tidak terbayar selama lebih dari 90 hari sejak tanggal jatuh tempo. Dalam standar manajemen risiko keuangan, angka di atas 5 persen dianggap sebagai zona kuning menuju merah, yang menandakan adanya potensi masalah dalam proses kurasi debitur atau kualitas aset yang menurun.

Mengapa 16 Platform Ini Menjadi Sorotan?

Terdapat beberapa alasan mengapa 16 platform ini bisa terjebak dalam angka kredit macet yang tinggi:

Lemahnya Proses Credit Scoring: Kemungkinan adanya celah dalam algoritma penilaian kredit yang gagal memitigasi profil risiko debitur secara akurat.

Ekspansi Agresif: Mengejar pertumbuhan volume penyaluran pinjaman dengan melonggarkan standar verifikasi demi memperluas pangsa pasar.

Kondisi Makroekonomi: Menurunnya daya beli masyarakat di segmen tertentu yang menjadi target utama penyaluran pinjaman.