Masyarakat Indonesia memiliki memori kolektif terhadap berbagai krisis ekonomi yang pernah terjadi, mulai dari krisis moneter 1998 hingga pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu. Dalam situasi ketidakpastian ekonomi, inflasi tinggi, atau depresiasi nilai tukar rupiah, emas selalu terbukti sebagai instrumen lindung nilai (hedging) yang paling efektif. Emas dianggap sebagai aset yang tidak bisa "dicetak" oleh pemerintah, sehingga nilainya cenderung stabil dalam jangka panjang.
2. Faktor Budaya dan Tradisi
Di Indonesia, emas bukan sekadar instrumen investasi, melainkan bagian dari tradisi dan identitas budaya. Penggunaan emas dalam upacara adat, pemberian mahar pernikahan, hingga hadiah untuk anak cucu, menjadikannya aset yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang menyebabkan perputaran emas di tingkat masyarakat sangat tinggi dan terus bertambah setiap tahunnya.
3. Kemudahan Akses dan Likuiditas
Berbeda dengan investasi properti yang membutuhkan modal besar dan proses penjualan yang lama, emas sangat mudah diperjualbelikan. Masyarakat dapat dengan mudah menukarkan emas mereka menjadi uang tunai di toko emas lokal, pegadaian, atau bank kapan saja mereka membutuhkan dana darurat. Likuiditas yang tinggi inilah yang membuat emas tetap menjadi pilihan utama bagi kelas menengah hingga menengah ke bawah.
Dampak Ekonomi dari Emas "Di Bawah Bantal"
Meskipun jumlah 1.800 ton emas ini memberikan rasa aman bagi individu, para ahli ekonomi memberikan catatan mengenai dampaknya terhadap sistem keuangan nasional secara makro. Ada dua sisi mata uang dalam fenomena ini.
Di satu sisi, kepemilikan emas yang masif ini merupakan indikator bahwa masyarakat Indonesia memiliki daya simpan (saving rate) yang cukup baik. Hal ini menunjukkan adanya modal yang tersimpan di tengah masyarakat yang bisa menjadi kekuatan ekonomi jika dikelola dengan tepat. Masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan sosial pemerintah karena memiliki aset pribadi untuk bertahan hidup.
Namun di sisi lain, terdapat tantangan mengenai "Idle Money" atau uang yang mengendap. Emas yang disimpan secara fisik di rumah tidak memberikan kontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi melalui jalur perbankan. Berikut adalah beberapa dampak jika emas tersebut tetap berada di luar sistem keuangan:
Rendahnya Penyaluran Kredit: Dana yang seharusnya bisa masuk ke sistem perbankan dalam bentuk tabungan untuk kemudian disalurkan sebagai kredit produktif, justru tersimpan dalam bentuk logam mulia yang tidak produktif secara perbankan.