Pengoperasian Kapal Tanker: Penggunaan kapal MT Musi dengan kapasitas khusus untuk membawa 200.000 liter Pertalite sebagai langkah percepatan.
Monitoring Distribusi: Pemantauan secara real-time terhadap pergerakan kapal dan truk tangki guna memastikan tidak ada kendala di jalur distribusi.
Prioritas Produk: Fokus pada penyediaan BBM yang paling dibutuhkan masyarakat untuk mobilitas harian dan kebutuhan logistik darurat.
Pengiriman melalui jalur laut menjadi kunci utama dalam distribusi di NTT. Mengingat kondisi geografis yang menantang, Pertamina terus berkoordinasi dengan otoritas pelabuhan setempat untuk memastikan kapal-kapal tanker dapat bersandar dengan aman meskipun terdapat potensi gangguan cuaca atau sisa-sisa dampak gempa di area perairan.
Menjaga Stabilitas Harga dan Ketersediaan di SPBU
Selain fokus pada jumlah volume, Pertamina juga memastikan bahwa mekanisme penyaluran di tingkat ritel, yakni Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), tetap berjalan normal. Tim di lapangan telah diinstruksikan untuk melakukan pemantauan ketat terhadap stok di setiap SPBU guna menghindari adanya penimbunan atau praktik spekulasi harga yang merugikan masyarakat.
Pihak Pertamina menegaskan bahwa ketersediaan BBM di masyarakat akan tetap terjaga sesuai dengan regulasi yang berlaku. Masyarakat diminta untuk tidak perlu melakukan pembelian dalam jumlah berlebihan (panic buying) yang justru dapat mengganggu stabilitas distribusi yang sedang diupayakan oleh petugas di lapangan.
“Kami berkomitmen penuh untuk memastikan bahwa energi tetap mengalir ke masyarakat NTT, bahkan dalam situasi sulit sekalipun. Kami memahami bahwa BBM adalah urat nadi ekonomi dan bantuan, sehingga setiap langkah yang kami ambil adalah untuk memastikan tidak ada kekosongan stok di lapangan,” ujar perwakilan manajemen dalam keterangan resminya.
Mitigasi Risiko dan Koordinasi Lintas Sektor
Dalam menjalankan misi penguatan stok ini, Pertamina Patra Niaga tidak bekerja sendiri. Perusahaan terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk Pemerintah Daerah NTT, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta pihak otoritas pelabuhan dan keamanan.
Koordinasi ini bertujuan untuk memetakan wilayah mana saja yang paling terdampak dan memerlukan suplai energi tambahan secara mendesak. Selain itu, koordinasi ini juga mencakup jalur logistik darat, di mana truk-truk tangki Pertamina akan bergerak dari terminal BBM menuju SPBU-SPBU di daerah pelosok dengan pengawalan dan pemantauan jalur yang aman dari risiko longsor atau kerusakan jalan akibat gempa.
Beberapa langkah mitigasi yang disiapkan antara lain: