Kepadatan di Ruang Tunggu: Lonjakan jumlah penumpang yang tertahan di terminal bandara menciptakan situasi yang kurang kondusif di area ruang tunggu.
Kendala Logistik: Selain penumpang, pengiriman barang melalui jalur udara (cargo) juga ikut terdampak, yang dapat menghambat rantai pasok di wilayah Kalimantan Barat.
Mengapa Asap Karhutla Sangat Berbahaya bagi Penerbangan?
Banyak masyarakat yang mungkin bertanya, mengapa asap kebakaran hutan bisa berdampak sedemikian besar pada pesawat terbang? Secara teknis, asap karhutla mengandung partikel mikroskopis yang sangat padat. Partikel ini tidak hanya mengganggu pandangan mata manusia, tetapi juga memiliki dampak teknis pada mesin pesawat.
Berikut adalah beberapa alasan mengapa asap karhutla menjadi ancaman serius bagi sektor aviasi:
1. Penurunan Visibilitas Visual
Ini adalah dampak yang paling langsung. Pilot membutuhkan pandangan yang jelas untuk memastikan posisi pesawat terhadap landasan pacu, terutama saat fase kritis yaitu saat mendekati landasan (final approach). Jika jarak pandang di bawah 1.000 meter, risiko salah identifikasi landasan atau hambatan di sekitar runway meningkat tajam.
2. Risiko Kerusakan Mesin (Engine Ingestion)
Asap hasil pembakaran lahan mengandung partikel abu dan material sisa pembakaran lainnya. Ketika mesin jet menyedot udara yang mengandung partikel padat dalam jumlah besar, hal ini dapat menyebabkan gangguan pada proses pembakaran di dalam mesin. Dalam kasus ekstrem, partikel ini dapat mengakibatkan penurunan performa mesin atau bahkan kerusakan komponen internal mesin pesawat.
3. Gangguan pada Instrumen Sensor
Pesawat modern sangat bergantung pada sensor-sensor eksternal seperti Pitot tube (untuk mengukur kecepatan udara) dan sensor lainnya. Partikel asap yang tebal dapat menyumbat lubang-lubang kecil pada sensor ini, yang jika tidak segera ditangani, dapat memberikan data yang salah kepada pilot mengenai kecepatan atau ketinggian pesawat.
Situasi Karhutla di Kalimantan Barat
Fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat tampaknya kembali meningkat seiring dengan masuknya musim kemarau yang lebih ekstrem. Titik api (hotspot) dilaporkan muncul di beberapa kabupaten, yang kemudian asapnya terbawa oleh angin menuju area pemukiman dan fasilitas publik, termasuk bandara.