Fenomena 26 Saham 'Gocap' Longsor: Bos BEI Ungkap Mengapa Tak Pengaruhi IHSG
Pergerakan saham di level Rp50 mengalami tekanan jual hebat, namun Bursa Efek Indonesia menegaskan dampaknya terhadap indeks utama sangat minim.
Kondisi pasar modal Indonesia belakangan ini tengah menjadi sorotan tajam para pelaku pasar. Fenomena penurunan harga saham secara masif, terutama pada kelompok saham yang berada di level harga psikologis Rp50 atau yang populer disebut sebagai "saham gocap", mulai mencemaskan para investor ritel. Tercatat sebanyak 26 saham mengalami penurunan hingga menyentuh batas bawah atau Auto Rejection Bawah (ARB).
Banyak investor, khususnya pemula, mulai merasa khawatir bahwa aksi jual di saham-saham lapis ketiga ini akan menyeret performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona merah. Namun, pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan perspektif yang berbeda terkait dampak dari fenomena "longsornya" saham-saham berharga murah ini terhadap stabilitas indeks nasional.
Penjelasan BEI Mengenai Dampak Saham Gocap Terhadap IHSG
Menanggapi kegelisahan pasar terkait melorotnya puluhan saham di level Rp50, manajemen Bursa Efek Indonesia menegaskan bahwa pergerakan saham-saham tersebut tidak memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pergerakan IHSG secara keseluruhan. Hal ini disebabkan oleh struktur perhitungan indeks yang digunakan di bursa saat ini.
IHSG tidak dihitung berdasarkan rata-rata harga saham semata, melainkan menggunakan metode market capitalization weighted. Artinya, bobot sebuah saham dalam menentukan naik atau turunnya IHSG sangat bergantung pada besarnya nilai kapitalisasi pasar perusahaan tersebut. Saham-saham yang berada di level Rp50 umumnya memiliki kapitalisasi pasar yang sangat kecil dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan blue-chip atau saham lapis pertama.
Oleh karena itu, meskipun ada puluhan saham yang mengalami penurunan tajam hingga menyentuh harga terendah, pengaruhnya terhadap angka IHSG menjadi sangat tereduksi. Sebagai perbandingan, pergerakan satu saham perbankan besar dengan kapitalisasi pasar ribuan triliun rupiah akan jauh lebih berdampak pada IHSG dibandingkan akumulasi penurunan dari puluhan saham "gocap" tersebut.
Mengapa Saham Gocap Sangat Fluktuatif?
Para analis pasar modal menyebutkan bahwa saham-saham di level Rp50 memiliki karakteristik risiko yang sangat tinggi. Beberapa alasan mengapa saham-saham ini sering mengalami aksi jual beruntun hingga menyentuh batas bawah antara lain: