Bandara Kedua: Mengalami pembatasan ruang udara yang menyebabkan seluruh jadwal penerbangan ditangguhkan hingga batas waktu yang ditentukan.
Bandara Ketiga: Dalam status siaga dan penutupan sementara menyusul laporan visibilitas yang rendah akibat partikel abu di udara.
Penutupan ini diprediksi akan berlangsung hingga pukul 10.00 WIB. Namun, perlu dicatat bahwa durasi penutupan ini dapat berubah sewaktu-waktu bergantung pada dinamika aktivitas gunung berapi dan arah angin yang membawa abu vulkanik tersebut.
Mengapa Abu Vulkanik Sangat Berbahaya bagi Pesawat?
Mungkin banyak masyarakat umum yang bertanya-tanya, mengapa hanya karena abu vulkanik, sebuah bandara harus ditutup total? Dalam dunia penerbangan, abu vulkanik adalah musuh yang sangat berbahaya. Berbeda dengan debu biasa, abu vulkanik terdiri dari partikel kecil berbahan silika dan batuan yang sangat keras.
1. Risiko Kerusakan Mesin Jet
Mesin jet bekerja dengan cara menghisap udara dalam jumlah besar untuk proses pembakaran. Ketika pesawat terbang melewati awan abu vulkanik, partikel silika yang panas akan masuk ke dalam mesin. Di dalam ruang bakar yang bersuhu sangat tinggi, partikel silika ini akan mencair dan kemudian membeku kembali menjadi partikel kaca keras di bagian turbin. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan mekanis yang fatal, mulai dari penurunan performa mesin hingga kegagalan mesin secara total (engine flameout).
2. Gangguan Visibilitas dan Sensor Pesawat
Selain masalah mesin, abu vulkanik juga mengganggu sistem navigasi. Partikel abu yang menempel pada kaca kokpit dapat mengurangi jarak pandang pilot secara drastis. Lebih jauh lagi, abu vulkanik dapat menyumbat sensor-sensor penting pesawat, seperti Pitot tube, yang berfungsi mengukur kecepatan udara. Jika sensor ini tersumbat, pilot akan kehilangan data krusial untuk mengendalikan pesawat dengan aman.
3. Efek Abrasi pada Badan Pesawat