Ketidakpastian Pendapatan: Mereka tidak memiliki gaji tetap bulanan. Pendapatan sangat bergantung pada kondisi cuaca, keramaian pasar, atau fluktuasi permintaan harian.
Ketiadaan Perlindungan Kerja: Minimnya kontrak kerja formal membuat mereka tidak memiliki jaminan kesehatan, tunjangan hari raya, atau uang pesangon jika sewaktu-waktu kehilangan mata pencaharian.
Sulitnya Akses Kredit Perbankan: Karena tidak memiliki slip gaji atau bukti penghasilan tetap, kelompok ini sering kali kesulitan mengakses kredit formal dari bank, yang akhirnya mendorong mereka ke jeratan rentenir atau pinjaman online ilegal.
2. Kerentanan Finansial dan Ketiadaan Tabungan (Living Paycheck to Paycheck)
Bagi warga kelas bawah, manajemen keuangan bukan tentang investasi atau diversifikasi aset, melainkan tentang bertahan hidup hingga hari esok. Sebagian besar pendapatan mereka habis hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (pangan dan tempat tinggal).
Kondisi ini menciptakan fenomena "kerentanan finansial". Artinya, mereka tidak memiliki dana darurat. Satu kejadian tak terduga—seperti anggota keluarga yang sakit atau kerusakan alat kerja—bisa langsung menjerumuskan mereka ke dalam krisis ekonomi yang lebih dalam. Ketidakmampuan untuk menabung membuat mobilitas vertikal (perpindahan kelas sosial ke atas) menjadi sangat lambat dan sulit dicapai.
3. Keterbatasan Akses terhadap Layanan Dasar yang Berkualitas
Meskipun pemerintah telah mengupayakan program seperti BPJS Kesehatan atau bantuan pendidikan, warga kelas bawah masih sering menghadapi hambatan dalam mengakses layanan berkualitas. Hambatan ini sering kali bukan hanya soal biaya, tetapi juga soal aksesibilitas dan kualitas layanan.
Dalam bidang kesehatan, meskipun pengobatan gratis tersedia, biaya transportasi menuju fasilitas kesehatan atau kehilangan pendapatan harian karena harus mengantre lama di rumah sakit sering kali menjadi beban berat. Di sektor pendidikan, meskipun ada bantuan biaya sekolah, biaya penunjang seperti buku, seragam, dan biaya transportasi tetap menjadi kendala yang membuat angka putus sekolah di kalangan kelas bawah masih menjadi tantangan serius bagi pemerintah.
4. Konsumsi yang Sangat Sensitif terhadap Inflasi
Kelompok kelas bawah memiliki elastisitas permintaan yang sangat tinggi terhadap harga kebutuhan pokok. Bagi kelas menengah ke atas, kenaikan harga beras atau minyak goreng mungkin hanya berdampak kecil pada pengeluaran bulanan. Namun, bagi warga kelas bawah, kenaikan harga pangan sedikit saja dapat mengubah struktur konsumsi mereka secara drastis.