Abu Vulkanik Mengancam Langit, 7 Bandara di Sumatra dan Jawa Ditutup: Ribuan Penerbangan Terganggu
Dampak aktivitas vulkanik menyebabkan penutupan sejumlah bandara hingga sore ini, mengakibatkan lebih dari 2.300 jadwal penerbangan terdampak.
Aktivitas vulkanik yang meningkat kembali memberikan dampak serius bagi sektor transportasi udara di Indonesia. Sebanyak tujuh bandara yang terletak di wilayah selatan Sumatra dan bagian barat Jawa dilaporkan ditutup sementara oleh otoritas penerbangan. Penutupan ini dilakukan sebagai langkah mitigasi darurat menyusul adanya sebaran abu vulkanik yang membahayakan keselamatan navigasi udara di wilayah tersebut.
Berdasarkan informasi terkini, penutupan bandara ini dijadwalkan berlangsung hingga pukul 18.00 WIB hari ini. Keputusan sulit ini diambil setelah hasil pemantauan menunjukkan bahwa konsentrasi abu vulkanik di ketinggian jalur penerbangan berada pada level yang berisiko tinggi bagi operasional pesawat terbang. Hal ini tentu menjadi kabar buruk bagi ribuan penumpang yang tengah merencanakan perjalanan mereka.
Dampak dari penutupan ini sangat masif. Tercatat, setidaknya sebanyak 2.300 penerbangan, baik domestik maupun internasional, mengalami gangguan jadwal. Gangguan tersebut bervariasi mulai dari pembatalan penerbangan secara total, penundaan (delay) yang cukup lama, hingga pengalihan rute (rerouting) ke bandara alternatif yang tidak terdampak abu vulkanik.
Risiko Tinggi Abu Vulkanik terhadap Keselamatan Penerbangan
Mengapa abu vulkanik menjadi ancaman yang begitu fatal bagi dunia penerbangan? Bagi masyarakat awam, abu mungkin terlihat seperti debu biasa, namun dalam konteks aviasi, partikel abu vulkanik memiliki karakteristik yang sangat merusak. Berbeda dengan debu biasa, abu vulkanik mengandung partikel silika dan material batuan kecil yang sangat keras dan tajam.
Berikut adalah beberapa risiko utama yang dihadapi pesawat saat terbang menembus awan abu vulkanik:
Kerusakan Mesin Jet: Partikel abu vulkanik dapat mencair saat masuk ke dalam ruang bakar mesin jet yang bersuhu sangat tinggi. Cairan silika ini kemudian akan mendingin dan membeku kembali menjadi partikel kaca yang keras di dalam mesin, yang dapat menyebabkan kegagalan mesin (engine failure) secara tiba-tiba.