DWJ Manajement - PORTAL

Ada Bursa Mineral, OJK Usul Anggaran Tambahan Rp 340,2 Miliar

Oleh: DWJ-Manajement 03 Sep 2026
Ada Bursa Mineral, OJK Usul Anggaran Tambahan Rp 340,2 Miliar

Stabilitas Ekonomi: Mengingat mineral adalah komoditas strategis, stabilitas di bursa ini akan berdampak langsung pada neraca perdagangan nasional.

Kepastian Hukum: Memberikan perlindungan bagi investor dan pelaku usaha dalam bertransaksi di bursa tersebut.

OJK memandang bahwa tanpa pengawasan yang mumpuni, bursa mineral berisiko menghadapi kendala teknis maupun risiko sistemik yang dapat mengganggu iklim investasi di sektor pertambangan.

Penguatan Infrastruktur Digital dan Teknologi Pengawasan

Selain fokus pada bursa baru, OJK juga mengalokasikan sebagian besar tambahan anggaran tersebut untuk penguatan infrastruktur teknologi informasi. Di era digitalisasi keuangan yang sangat masif, OJK dituntut untuk memiliki kapabilitas teknologi yang setara atau bahkan lebih tinggi dari industri yang diawasinya.

Pengembangan SupTech (Supervisory Technology) dan RegTech (Regulatory Technology) menjadi prioritas. Dengan infrastruktur yang kuat, OJK dapat melakukan pemantauan secara real-time terhadap transaksi keuangan, mendeteksi pola kecurangan (fraud) lebih dini, serta memperkuat sistem keamanan data nasabah di seluruh lembaga jasa keuangan.

Transformasi digital ini juga bertujuan untuk meminimalisir risiko siber yang kian meningkat. Mengingat ketergantungan sektor perbankan dan pasar modal terhadap konektivitas digital, kegagalan sistem pada satu titik dapat memicu efek domino yang membahayakan stabilitas sistem keuangan nasional.

Misi Besar Peningkatan Literasi dan Inklusi Keuangan

Di sisi lain, tantangan besar yang dihadapi Indonesia adalah kesenjangan antara inklusi keuangan dan literasi keuangan. Meskipun akses masyarakat terhadap produk keuangan meningkat, pemahaman mengenai risiko dan cara kerja produk tersebut seringkali masih rendah.

OJK menyadari bahwa tingginya angka inklusi tanpa dibarengi literasi yang cukup adalah "bom waktu". Banyaknya kasus penipuan berbasis investasi bodong, pinjaman online ilegal, serta jeratan judi online yang memanfaatkan celah teknologi finansial menjadi bukti nyata urgensi edukasi keuangan.

Melalui tambahan anggaran ini, OJK berencana memperluas jangkauan program edukasi ke berbagai lapisan masyarakat, mulai dari wilayah pelosok hingga generasi muda (Gen Z dan Alpha) yang merupakan pengguna aktif teknologi digital. Program-program ini akan difokuskan pada: