Jejak Patriotisme Ekonomi: Mengenal Margono Djohohadikusumo, Kakek Prabowo, Sang Arsitek Bank Pertama Indonesia
Nama Prabowo Subianto mungkin telah melekat kuat dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia sebagai sosok pemimpin militer dan politisi nasional yang tangguh. Namun, jika kita menelusuri lebih dalam ke dalam silsilah keluarga besar Subianto, kita akan menemukan jejak perjuangan yang tidak kalah heroik, namun terjadi di medan yang berbeda: medan ekonomi dan kedaulatan finansial.
Jauh sebelum era modernitas melanda Indonesia, terdapat seorang tokoh visioner bernama Margono Djohohadikusumo. Beliau bukan sekadar anggota keluarga dari tokoh besar, melainkan salah satu arsitek utama dalam meletakkan fondasi ekonomi nasional. Margono adalah sosok kunci di balik berdirinya Bank Negara Indonesia (BNI), bank pertama yang menjadi simbol kedaulatan ekonomi Republik Indonesia di tengah tekanan kolonial yang masih mencoba mencengkeram erat urat nadi keuangan bangsa.
Melawan Dominasi Kolonial Melalui Kedaulatan Finansial
Memahami peran Margono Djohohadikusumo tidak bisa dilepaskan dari situasi geopolitik Indonesia pada masa awal kemerdekaan. Pasca Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia tidak hanya berjuang melawan serangan fisik dari tentara Belanda, tetapi juga harus berhadapan dengan upaya sistematis Belanda untuk mengendalikan ekonomi melalui instrumen perbankan.
Pada masa itu, Belanda berupaya keras untuk menghidupkan kembali De Javasche Bank (DJB) sebagai pusat sirkulasi keuangan di wilayah yang mereka klaim sebagai wilayah kekuasaan mereka. Bagi para pendiri bangsa, termasuk Margono, upaya Belanda ini bukan sekadar masalah bisnis perbankan, melainkan sebuah ancaman eksistensial terhadap kedaulatan negara yang baru lahir. Jika Belanda berhasil mengendalikan sistem perbankan, maka secara otomatis mereka akan mengendalikan arus modal, perdagangan, dan stabilitas ekonomi Indonesia.
Margono Djohohadikusumo menyadari sepenuhnya bahwa kemerdekaan politik tanpa kemerdekaan ekonomi adalah sebuah kerapuhan. Beliau meyakini bahwa untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan, Indonesia membutuhkan sebuah instrumen keuangan sendiri yang sepenuhnya dikontrol oleh tangan-tangan putra bangsa. Inilah yang kemudian memicu semangat perjuangan untuk menciptakan sistem perbankan nasional yang mandiri.
Menentang Kembalinya De Javasche Bank
Salah satu momen paling krusial dalam sejarah perbankan Indonesia adalah perlawanan terhadap upaya revitalisasi De Javasche Bank oleh pihak Belanda. DJB saat itu dipandang sebagai alat penjajahan ekonomi yang dirancang untuk menguras sumber daya alam Indonesia dan mengalirkannya kembali ke kas negara Belanda.
Margono bersama tokoh-tokoh pergerakan lainnya melakukan manuver politik dan ekonomi yang sangat berisiko. Mereka menolak mentah-mentah segala bentuk upaya yang bertujuan menjadikan DJB sebagai pusat otoritas keuangan di tanah air. Perlawanan ini bukan tanpa konsekuensi; para tokoh yang berdiri di garis depan perjuangan ekonomi ini menghadapi intimidasi dan tekanan politik yang sangat hebat dari pihak kolonial.