Geofisika: Mendeteksi getaran tanah akibat gempa bumi, memantau aktivitas seismik, serta memberikan peringatan dini tsunami.
Fungsi dan Fokus Badan Geologi
Berbeda dengan BMKG yang lebih condong pada fenomena atmosfer dan getaran seismik yang bersifat dinamis, Badan Geologi di bawah Kementerian ESDM lebih fokus pada struktur penyusun bumi dan sumber daya yang terkandung di dalamnya. Fokus utama mereka meliputi:
Pemetaan Geologi: Melakukan pemetaan struktur batuan, patahan (sesar), dan kondisi morfologi bumi secara mendalam.
Mitigasi Bencana Geologi: Melakukan kajian terhadap potensi bencana yang berasal dari struktur bumi, seperti tanah longsor, erupsi gunung api (dari sisi geologi batuan), dan likuifaksi.
Sumber Daya Mineral: Mengelola data terkait potensi sumber daya energi, mineral, batubara, dan panas bumi yang ada di dalam lapisan bumi.
Pemantauan Gunung Api: Secara spesifik melakukan pengamatan teknis terhadap aktivitas vulkanisme dari sisi struktur dan material magma.
Implikasi Penggabungan: Efisiensi atau Penurunan Kualitas?
Wacana penggabungan ini seringkali muncul dengan alasan efisiensi anggaran dan penyederhanaan birokrasi. Para pendukung wacana ini berargumen bahwa dengan menyatukan lembaga-lembaga yang memiliki keterkaitan data, koordinasi dalam penanggulangan bencana akan menjadi lebih cepat dan terintegrasi dalam satu komando.
Namun, terdapat risiko besar yang membayangi jika penggabungan ini tidak dilakukan dengan skema yang tepat. Beberapa tantangan yang mungkin muncul antara lain:
Spesialisasi Keilmuan: Geologi dan Meteorologi adalah dua disiplin ilmu yang sangat luas. Penggabungan lembaga berisiko mengaburkan fokus spesialisasi para ahli di dalamnya.
Beban Kerja yang Terlalu Luas: Jika kedua lembaga digabung, maka entitas baru tersebut akan memiliki cakupan tugas yang sangat masif, mulai dari urusan cuaca, iklim, gempa, hingga urusan tambang dan mineral. Hal ini dikhawatirkan dapat menurunkan efektivitas pengawasan.