DWJ Manajement - PORTAL

ADB Ramal Inflasi RI Bengkak ke 3,3%!

Oleh: DWJ-Manajement 23 Sep 2026
ADB Ramal Inflasi RI Bengkak ke 3,3%!

Pertumbuhan di angka 5,2 persen ini dianggap sebagai angka yang "sehat" untuk menjaga keseimbangan antara ekspansi ekonomi dan stabilitas fiskal. Namun, pertumbuhan yang tinggi tanpa dibarengi kontrol harga yang ketat dapat menjadi pedang bermata dua bagi stabilitas makroekonomi.

Tantangan di Balik Angka Pertumbuhan

Walaupun pertumbuhan ekonomi terlihat menjanjikan, ADB juga mengingatkan adanya risiko eksternal yang dapat menghambat laju tersebut. Ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia, termasuk konflik di Timur Tengah dan Ukraina, berpotensi mengganggu rantai pasok global. Hal ini dapat menyebabkan kenaikan biaya logistik dan energi, yang pada akhirnya akan membebani struktur biaya produksi di dalam negeri.

Mengapa Inflasi Diprediksi Bengkak ke 3,3 Persen?

Poin yang paling mencolok dari laporan ADB kali ini adalah proyeksi inflasi yang naik ke level 3,3 persen. Angka ini berada di atas ekspektasi moderat sebelumnya dan menunjukkan adanya tren kenaikan tekanan harga di tingkat konsumen.

Ada beberapa faktor krusial yang diduga menjadi pemicu kenaikan inflasi di Indonesia. Pertama, adalah volatilitas harga pangan (volatile foods). Faktor cuaca yang tidak menentu akibat fenomena iklim global seringkali mengganggu siklus panen, yang mengakibatkan kelangkaan pasokan di pasar dan lonjakan harga bahan pokok seperti beras, cabai, dan bawang.

Ked kedua, tekanan pada harga energi dan biaya transportasi. Jika harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan akibat ketidakpastian geopolitik, hal ini akan langsung berdampak pada biaya distribusi barang. Kenaikan biaya logistik ini hampir selalu diikuti dengan kenaikan harga jual produk di tingkat konsumen akhir.

Selain itu, faktor-faktor berikut juga turut memperkuat potensi kenaikan inflasi:

Penyesuaian Harga Komoditas Global: Kenaikan harga input industri impor dapat memicu "imported inflation" atau inflasi yang berasal dari luar negeri.

Peningkatan Permintaan Domestik: Pertumbuhan ekonomi yang kuat mendorong masyarakat untuk belanja lebih banyak, yang jika tidak diimbangi dengan ketersediaan suplai yang cukup, akan mendorong harga naik.

Kebijakan Fiskal dan Subsidi: Kebijakan pemerintah terkait penyesuaian subsidi energi juga menjadi variabel sensitif yang dapat menggerakkan angka inflasi secara signifikan.