Waspada Risiko Operasional, Ahli Sebut Mayoritas Perusahaan di Indonesia Masih Reaktif Hadapi Gangguan IT
Strategi "pemadam kebakaran" dalam manajemen IT berisiko menghambat efisiensi, mengancam keamanan data, dan membengkakkan biaya operasional perusahaan.
Transformasi digital di Indonesia mengalami akselerasi yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Hampir seluruh sektor bisnis, mulai dari perbankan, manufaktur, hingga ritel, telah mengintegrasikan teknologi informasi (IT) ke dalam inti operasional mereka. Namun, di balik kemajuan teknologi yang pesat tersebut, terdapat sebuah tantangan fundamental yang masih menjadi rapor merah bagi banyak organisasi di tanah air.
Hanief Bastian, Technical Manager ManageEngine Indonesia, mengungkapkan sebuah temuan yang cukup mengkhawatirkan. Menurutnya, mayoritas perusahaan di Indonesia saat ini masih terjebak dalam pola manajemen IT yang bersifat reaktif. Artinya, tim IT baru akan bergerak melakukan tindakan korektif setelah gangguan atau masalah teknis benar-benar terjadi dan menghentikan alur kerja perusahaan.
Kondisi ini menciptakan budaya "pemadam kebakaran" di departemen IT, di mana fokus utama tenaga ahli bukan pada pencegahan atau optimalisasi sistem, melainkan pada upaya memadamkan "api" masalah yang muncul secara mendadak. Fenomena ini jika dibiarkan akan menjadi bom waktu bagi keberlangsungan bisnis di era digital yang menuntut ketersediaan layanan (uptime) hampir 100 persen.
Budaya "Pemadam Kebakaran" di Sektor Teknologi Informasi
Dalam manajemen IT, terdapat perbedaan mendasar antara pendekatan reaktif dan proaktif. Perusahaan yang reaktif cenderung menunggu hingga ada laporan dari pengguna atau munculnya peringatan sistem (alert) yang kritis sebelum melakukan perbaikan. Pendekatan ini sering kali dianggap sebagai cara yang "hemat biaya" di awal karena perusahaan tidak perlu berinvestasi besar pada alat monitoring atau sistem prediksi.
Namun, Hanief menekankan bahwa pola pikir ini sangat keliru dalam lanskap bisnis modern. Ketika sebuah gangguan terjadi—baik itu kegagalan server, serangan siber, atau gangguan jaringan—dampaknya tidak hanya bersifat teknis, tetapi langsung merembet ke aspek finansial dan reputasi. Dalam pola reaktif, waktu yang terbuang untuk mendiagnosis masalah saat krisis terjadi (Mean Time to Repair/MTTR) sering kali terlalu lama, yang berakibat pada kerugian yang jauh lebih besar daripada biaya investasi sistem pencegahan.
Mengapa hal ini masih terjadi di Indonesia? Beberapa faktor disinyalir menjadi penyebab utama:
Keterbatasan Anggaran: Banyak manajemen tingkat atas masih melihat departemen IT sebagai "cost center" atau pusat biaya, bukan sebagai penggerak nilai bisnis, sehingga alokasi anggaran untuk alat monitoring preventif sering kali dipangkas.
Kurangnya Talenta Ahli: Kebutuhan akan tenaga IT yang tidak hanya mampu memperbaiki kerusakan, tetapi juga mampu melakukan analisis prediktif, masih sangat tinggi di pasar kerja Indonesia.
Prioritas Jangka Pendek: Fokus pada hasil instan sering kali membuat perusahaan mengabaikan pemeliharaan rutin dan pembaruan sistem yang bersifat preventif.