Kemudahan Perizinan: Melalui reformasi birokrasi dan digitalisasi sistem perizinan untuk memangkas rantai birokrasi yang panjang.
Subsidi Tepat Sasaran: Memastikan dukungan pemerintah dapat dirasakan langsung oleh sektor-sektor yang mampu mendorong multiplier effect ekonomi.
Dengan adanya dukungan ini, Airlangga menilai beban operasional dunia usaha dapat ditekan, sehingga kapasitas produksi nasional dapat ditingkatkan secara signifikan.
Investasi Sebagai Katalisator Pertumbuhan
Selain insentif, arus investasi menjadi faktor krusial yang tidak dapat diabaikan. Investasi tidak hanya menyumbang pada Produk Domestik Bruto (PDB), tetapi juga berperan penting dalam menciptakan lapangan kerja baru dan transfer teknologi.
Pemerintah mencatat adanya peningkatan minat investor asing (Foreign Direct Investment/FDI) yang mulai melirik hilirisasi industri di Indonesia. Sektor pengolahan sumber daya alam menjadi primadona, di mana nilai tambah produk ekspor Indonesia meningkat drastis berkat kebijakan hilirisasi yang konsisten dilakukan oleh pemerintah.
Menghadapi Tantangan dan Ketidakpastian Global
Meski menunjukkan optimisme yang tinggi, Airlangga Hartarto juga menyadari adanya tantangan yang harus diwaspadai. Kondisi geopolitik dunia yang fluktuatif serta kebijakan moneter negara-negara maju seringkali memberikan tekanan terhadap stabilitas nilai tukar dan inflasi domestik.
Namun, pemerintah meyakini bahwa dengan menjaga stabilitas makroekonomi, Indonesia memiliki daya tahan (resiliensi) yang cukup kuat. Strategi yang diterapkan adalah dengan memperkuat pasar domestik agar tidak terlalu bergantung pada ekspor, serta terus mengoptimalkan konsumsi rumah tangga sebagai pilar utama ekonomi.
Langkah Mitigasi Risiko Ekonomi
Untuk menjaga agar target pertumbuhan di atas 5 persen tersebut tetap tercapai, pemerintah telah menyiapkan beberapa langkah mitigasi, antara lain: