"Kita masih menggunakan batu bara, utamanya, hampir 50 persen untuk listrik," ujar Airlangga dalam sebuah kesempatan diskusi ekonomi baru-baru ini.
Mengapa Selat Hormuz Sangat Berpengaruh terhadap Harga Minyak?
Untuk memahami mengapa pernyataan Airlangga ini penting, kita perlu melihat urgensi Selat Hormuz dalam peta energi global. Selat Hormuz adalah jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Jalur ini merupakan urat nadi perdagangan minyak dunia, di mana sebagian besar pasokan minyak mentah dari negara-negara produsen besar seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait melewati jalur ini.
Jika terjadi konflik militer atau blokade di Selat Hormuz, pasokan minyak dunia akan terancam menyusut secara drastis. Sesuai hukum permintaan dan penawaran, kelangkaan pasokan akan memicu lonjakan harga minyak mentah secara global. Bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak untuk bahan bakar kendaraan atau industri, hal ini tentu menjadi ancaman inflasi yang nyata.
Dampak Terhadap Sektor Kelistrikan: Minyak vs Batu Bara
Perlu dipahami bahwa dalam struktur pembangkitan listrik di Indonesia, penggunaan minyak bumi (seperti BBM atau solar) biasanya hanya digunakan pada kondisi tertentu, misalnya pada pembangkit listrik cadangan atau di wilayah-wilayah terpencil (sistem off-grid). Sebaliknya, pembangkit listrik skala besar atau yang menyokong beban dasar (base load) di Jawa-Bali dan wilayah lain mayoritas menggunakan batu bara melalui Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Oleh karena itu, meskipun harga minyak dunia melambung tinggi akibat tensi di Selat Hormuz, pengaruhnya terhadap biaya produksi listrik nasional tidak akan sedrastis jika Indonesia menggunakan minyak sebagai bahan bakar utama pembangkit listrik. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa pemerintah tetap optimis dapat menjaga tarif listrik agar tidak naik secara signifikan dalam waktu dekat.
Tantangan Transisi Energi di Tengah Gejolak Global
Meskipun penggunaan batu bara saat ini menjadi "penyelamat" stabilitas tarif listrik, pemerintah tidak menutup mata terhadap tantangan jangka panjang. Di satu sisi, pemerintah sedang berupaya melakukan transisi energi menuju Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk mengurangi emisi karbon. Namun di sisi lain, stabilitas harga energi tetap menjadi prioritas untuk menjaga daya beli masyarakat dan iklim investasi.
Beberapa tantangan yang dihadapi dalam menjaga stabilitas ini antara lain:
Fluktuasi Harga Komoditas Global: Selain minyak, harga batu bara juga dipengaruhi oleh permintaan global dan dinamika ekspor-impor.