Menilik Hiruk-Pikuk Nelayan Ternate: Antara Tradisi Menjemput Rezeki dan Ambisi Modernisasi Armada Nasional
Di tengah rencana besar pemerintah memperkuat armada perikanan nasional dengan target 950 kapal pada 2027, geliat ekonomi nelayan di Kelurahan Rua, Ternate, tetap berjalan dengan ritme tradisional.
Suasana pesisir Kelurahan Rua, Ternate, tampak lebih sibuk dari biasanya saat matahari mulai condong ke arah barat. Aroma khas laut yang bercampur dengan bau amis ikan segar menyeruak di udara, menandakan bahwa para nelayan setempat baru saja menyelesaikan tugas mereka di tengah luasnya Samudera Pasifik. Satu per satu, perahu-perahu kayu dengan mesin sederhana merapat ke dermaga, membawa harapan serta hasil tangkapan yang menjadi tumpuan hidup bagi keluarga mereka.
Aktivitas menurunkan hasil tangkapan di Rua bukan sekadar rutinitas ekonomi, melainkan sebuah ritme kehidupan yang telah turun-temurun dilakukan. Para nelayan dengan cekatan memindahkan keranjang-keranjang berisi ikan ke daratan, di mana para pedagang kecil dan pengepul telah menunggu dengan sabar. Di balik kesederhanaan pemandangan ini, tersimpan sebuah dinamika besar yang sedang membayangi masa depan sektor kelautan Indonesia.
Saat para nelayan di Ternate masih mengandalkan metode konvensional dan armada skala kecil, pemerintah pusat tengah menyiapkan langkah besar dalam peta jalan transformasi maritim nasional. Sebuah rencana ambisius tengah digulirkan untuk mengubah wajah perikanan Indonesia dari tradisional menjadi industri modern yang berdaya saing global.
Target Modernisasi: 950 Kapal Ikan Menuju 2027
Pemerintah melalui kementerian terkait telah menetapkan target yang cukup menantang: modernisasi 950 kapal ikan di seluruh penjuru tanah air pada tahun 2027. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki potensi sumber daya laut yang luar biasa, namun pemanfaatannya selama ini dinilai belum optimal karena keterbatasan teknologi dan kapasitas armada.
Modernisasi ini bertujuan untuk memperkuat armada nasional agar mampu menjangkau zona ekonomi eksklusif (ZEE) dengan lebih efektif. Dengan kapal yang lebih besar dan teknologi yang lebih canggih, diharapkan Indonesia tidak hanya menjadi penonton di perairan sendiri, tetapi juga menjadi pemain utama dalam rantai pasok perikanan dunia. Ada beberapa poin utama yang menjadi fokus dalam rencana modernisasi ini:
Peningkatan Kapasitas Tangkap: Mengganti kapal-kapal kecil dengan kapal berkapasitas besar agar volume tangkapan meningkat secara signifikan.
Integrasi Teknologi Navigasi: Penggunaan GPS, sonar, dan sistem pemantauan satelit untuk mendeteksi keberadaan gerombolan ikan secara akurat.
Standardisasi Higienitas: Penerapan teknologi pendingin (cold storage) di atas kapal untuk menjaga kualitas ikan tetap premium hingga sampai ke tangan konsumen.