DWJ Manajement - PORTAL

Anak Gaza Kembali ke Sekolah, 541.000 Siswa Belajar di Tenda dan Puing

Oleh: DWJ-Manajement 20 Sep 2026
Anak Gaza Kembali ke Sekolah, 541.000 Siswa Belajar di Tenda dan Puing

Dahsyatnya Semangat Anak-anak Gaza: 541 Ribu Siswa Kembali Sekolah Meski di Tengah Puing dan Tenda

Setelah tiga tahun pendidikan mereka terputus akibat konflik berkepanjangan, ratusan ribu anak di Gaza mencoba merajut kembali mimpi mereka melalui sekolah darurat di tengah reruntuhan.

GAZA — Di tengah deru suara yang tak menentu dan pemandangan kota yang hancur lebur, sebuah suara lain mulai terdengar di beberapa sudut Jalur Gaza. Bukan sekadar suara ledakan atau dentuman artileri, melainkan suara lantang anak-anak yang sedang mengeja huruf dan menghitung angka. Sebanyak 541.000 siswa di Gaza dilaporkan telah mulai kembali ke bangku sekolah, sebuah upaya heroik untuk memulihkan masa depan yang hampir hilang akibat perang.

Kembalinya aktivitas pendidikan ini menjadi simbol ketahanan (resilience) yang luar biasa. Setelah hampir tiga tahun mengalami gangguan pendidikan yang masif akibat eskalasi konflik, anak-anak Gaza kini dipaksa untuk belajar dalam kondisi yang jauh dari kata layak. Sekolah-sekolah formal yang dulunya megah kini telah menjadi puing-puing, memaksa para pendidik dan siswa untuk mencari ruang di mana saja yang tersisa.

Pendidikan di Tengah Reruntuhan: Realita Sekolah Darurat

Bagi 541.000 anak di Gaza, "sekolah" tidak lagi berbentuk gedung beton dengan ruang kelas yang nyaman, meja, dan kursi yang tertata rapi. Realita yang mereka hadapi saat ini adalah belajar di dalam tenda-tenda darurat yang seringkali tidak mampu menahan cuaca ekstrem, atau di sela-sela reruntuhan bangunan yang masih membahayakan keselamatan.

Kondisi infrastruktur pendidikan di Gaza telah mencapai titik terendah dalam sejarah modern. Sebagian besar sekolah yang dikelola oleh UNRWA (United Nations Relief and Works Agency) maupun pemerintah setempat mengalami kerusakan berat atau hancur total. Hal ini menciptakan tantangan logistik yang luar biasa bagi para relawan pendidikan dan guru.

Meskipun demikian, semangat untuk belajar tidak padam. Di beberapa kamp pengungsian, tenda-tenda plastik yang dipasang seadanya telah beralih fungsi menjadi ruang kelas. Di sana, anak-anak duduk berhimpitan, mencoba fokus pada pelajaran di tengah debu bangunan yang masih menyelimuti udara.

Tantangan Utama yang Dihadapi Siswa dan Pengajar

Menjalankan proses belajar-mengajar di zona konflik bukan sekadar soal menyampaikan materi kurikulum. Ada berbagai kendala sistemik dan psikologis yang menghantam para siswa dan guru setiap harinya. Beberapa kendala utama yang teridentifikasi meliputi: