Ketiadaan Fasilitas Dasar: Tidak adanya akses air bersih, sanitasi yang memadai, serta listrik membuat proses belajar menjadi sangat tidak higienis dan melelahkan.
Keamanan yang Tidak Menentu: Risiko serangan udara yang bisa terjadi kapan saja menciptakan trauma mendalam bagi siswa, membuat konsentrasi belajar sulit dicapai.
Kurangnya Alat Tulis dan Buku: Distribusi bantuan pendidikan sangat terbatas, memaksa siswa belajar dengan peralatan seadanya, bahkan terkadang tanpa buku tulis sama sekali.
Beban Psikologis (Trauma): Mayoritas siswa di Gaza mengalami PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) akibat kehilangan anggota keluarga, rumah, dan menyaksikan kekerasan secara langsung.
Krisis Guru: Banyak tenaga pendidik yang juga menjadi korban perang atau kehilangan tempat tinggal, sehingga rasio guru dan murid menjadi tidak seimbang.
Upaya Menyelamatkan Generasi yang Hilang (Lost Generation)
Para pakar pendidikan internasional memperingatkan bahwa jika pendidikan di Gaza tidak segera dipulihkan secara sistematis, wilayah ini akan menghadapi ancaman "lost generation" atau generasi yang hilang. Tiga tahun masa pendidikan yang terganggu dapat berdampak pada kemampuan kognitif, keterampilan sosial, dan prospek ekonomi anak-anak Gaza di masa depan.
Oleh karena itu, langkah kembali ke sekolah meskipun dalam kondisi terbatas adalah langkah krusial untuk mencegah dampak jangka panjang tersebut. Pendidikan dianggap sebagai satu-satunya alat bagi anak-anak Gaza untuk memiliki harapan dan kemampuan untuk membangun kembali bangsa mereka suatu saat nanti.