Paparan gas SO2, meskipun dalam konsentrasi rendah, dapat menimbulkan efek kesehatan yang signifikan, terutama jika terpapar dalam jangka waktu tertentu atau bagi kelompok masyarakat yang rentan. Karena gas ini bersifat iritan, target utama serangan adalah organ-organ yang memiliki selaput lendir (mukosa).
Gangguan Sistem Pernapasan
Dampak yang paling langsung dirasakan adalah gangguan pada saluran pernapasan. Ketika seseorang menghirup gas SO2, gas tersebut akan bereaksi dengan kelembapan di dalam paru-paru dan membentuk asam sulfat ringan yang bersifat iritan. Hal ini dapat menyebabkan:
Iritasi Tenggorokan: Rasa gatal, perih, atau sensasi terbakar di tenggorokan saat bernapas.
Sesak Napas (Dyspnea): Penyempitan saluran napas yang membuat penderita merasa sulit mengambil napas dalam.
Batuk Kronis: Reaksi tubuh untuk mengeluarkan iritan yang memicu batuk-batuk terus menerus.
Eksaserbasi Asma: Bagi penderita asma, paparan SO2 dapat memicu serangan asma yang hebat dan mendadak.
Efek pada Mata dan Kulit
Selain pernapasan, mata juga merupakan area yang sangat sensitif terhadap gas ini. Paparan SO2 dapat menyebabkan mata menjadi merah, perih, berair, hingga mengalami iritasi kornea ringan. Pada beberapa kasus, bagi mereka yang memiliki kulit sensitif, paparan udara yang terkontaminasi gas ini secara terus-menerus dapat memicu iritasi kulit atau rasa tidak nyaman pada wajah.
Kelompok Risiko Tinggi
Pemerintah dan ahli kesehatan menekankan bahwa tidak semua orang akan merasakan dampak yang sama. Ada kelompok masyarakat yang wajib memberikan perhatian ekstra:
Anak-anak: Karena sistem pernapasan mereka masih dalam tahap perkembangan dan frekuensi napas mereka lebih cepat.
Lansia: Mengingat penurunan fungsi organ tubuh seiring bertambahnya usia.
Penderita Penyakit Kronis: Mereka yang sudah memiliki riwayat asma, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), atau penyakit jantung.
Pekerja Luar Ruangan: Seperti pengemudi ojek online, pekerja konstruksi, dan pedagang kaki lima yang terpapar udara secara langsung dalam waktu lama.