Sumber Energi yang Berbeda: Erupsi gunung api digerakkan oleh tekanan magma dan gas di dalam kawah, sedangkan gempa megathrust digerakkan oleh akumulasi energi elastis akibat pergerakan lempeng tektonik yang saling bergesekan.
Skala Dampak: Erupsi gunung api cenderung bersifat lokal dan vertikal (ke atas), sementara gempa megathrust berdampak luas secara horizontal (ke samping) dan dapat memicu tsunami akibat deformasi dasar laut.
Kausalitas Geologi: Belum ada bukti ilmiah yang kuat yang menyatakan bahwa erupsi gunung api di darat atau di dekat pantai secara langsung dapat memicu pelepasan energi pada zona subduksi megathrust yang terletak lebih dalam di bawah laut.
Hubungan Spasial vs Hubungan Kausalitas
Penting untuk membedakan antara hubungan spasial (lokasi) dan hubungan kausalitas (sebab-akibat). Anak Krakatau dan zona megathrust memang memiliki hubungan spasial karena berada di satu kawasan geologi yang sama. Namun, secara kausalitas, erupsi gunung api tidak menjadi penyebab utama terjadinya gempa megathrust.
Daryono menjelaskan bahwa kondisi geologi di Selat Sunda memang kompleks. Namun, kita harus melihat setiap fenomena secara proporsional. Erupsi Anak Krakatau adalah siklus alamiah gunung api yang memang harus terjadi, sementara potensi megathrust adalah risiko tektonik yang memang sudah ada sejak lama karena posisi Indonesia di pertemuan lempeng dunia.
Risiko Bencana di Selat Sunda: Apa yang Harus Diwaspadai?
Meskipun secara teori erupsi tidak memicu megathrust, bukan berarti masyarakat boleh lengah. Kawasan Selat Sunda tetap merupakan salah satu wilayah dengan tingkat risiko bencana yang tinggi di Indonesia. Ada dua skenario utama yang perlu dipahami dalam konteks kesiapsiagaan.
Potensi Tsunami dari Erupsi
Kita harus belajar dari sejarah kelam Desember 2018. Saat itu, tsunami yang terjadi di Selat Sunda bukan disebabkan oleh gempa bumi tektonik, melainkan oleh runtuhnya sebagian badan Gunung Anak Krakatau ke dalam laut (flank collapse). Fenomena ini menyebabkan perpindahan massa air yang besar secara tiba-tiba, yang kemudian menjadi gelombang tsunami. Jadi, meskipun tidak memicu megathrust, erupsi gunung api yang ekstrem tetap memiliki potensi tsunami tersendiri.
Potensi Tsunami dari Megathrust