Prosedur Diversi: Mengapa Pesawat Harus Mencari Bandara Lain?
Ketika pilot menyadari bahwa bandara tujuan tidak memenuhi standar keselamatan minimum akibat asap, maka prosedur yang dilakukan adalah diversi atau pengalihan penerbangan. Proses ini bukanlah keputusan yang diambil secara emosional atau terburu-buru, melainkan hasil dari kalkulasi teknis yang mendalam.
Dalam melakukan diversi, pilot dan kru pesawat harus mempertimbangkan beberapa variabel penting:
Cadangan Bahan Bakar (Fuel Reserve): Pilot harus menghitung apakah sisa bahan bakar yang ada cukup untuk terbang menuju bandara alternatif, termasuk menyediakan cadangan untuk terbang menunggu (holding) jika bandara tersebut juga mengalami kendala.
Kondisi Bandara Alternatif: Bandara yang dipilih harus memiliki fasilitas yang memadai, landasan yang sesuai dengan jenis pesawat, serta kondisi cuaca dan visibilitas yang memungkinkan untuk pendaratan.
Komunikasi dengan ATC: Pilot akan berkoordinasi intensif dengan Air Traffic Control (ATC) untuk mendapatkan rute teraman dan memastikan bahwa bandara tujuan alternatif siap menerima kedatangan pesawat tersebut.
Keputusan untuk "putar balik" atau mencari bandara lain adalah bentuk implementas dari manajemen risiko. Meskipun hal ini menyebabkan keterlambatan bagi penumpang dan menambah biaya operasional bagi maskapai, risiko tersebut jauh lebih kecil dibandingkan risiko pendaratan dalam kondisi jarak pandang yang buruk.
Dampak Operasional dan Ekonomi bagi Maskapai
Fenomena Karhutla tidak hanya berdampak pada aspek teknis penerbangan, tetapi juga menimbulkan efek domino pada sektor ekonomi dan pelayanan publik. Ketika terjadi pengalihan penerbangan (diversi) secara massal, maskapai akan menghadapi tantangan besar, di antaranya:
Pembengkakan Biaya Operasional: Penggunaan bahan bakar ekstra untuk terbang ke bandara alternatif dan biaya tambahan untuk mendarat di bandara yang berbeda secara signifikan meningkatkan biaya per penerbangan.