DWJ Manajement - PORTAL

Asing Borong 10 Saham Ini Kala IHSG Merah

Oleh: DWJ-Manajement • 30 Sep 2026
Asing Borong 10 Saham Ini Kala IHSG Merah

Sektor Perbankan (Big Caps): Saham-saham perbankan besar sering kali menjadi jangkar bagi IHSG. Saat terjadi koreksi, asing cenderung melihat perbankan sebagai aset aman (safe haven) dengan dividen yang menjanjikan.

Sektor Telekomunikasi: Sebagai sektor defensif, saham telekomunikasi tetap menarik karena kinerja keuangannya yang cenderung stabil meski kondisi ekonomi sedang fluktuatif.

Sektor Konsumsi (Consumer Goods): Saham di sektor ini menjadi pilihan saat daya beli masyarakat dianggap masih mampu bertahan, memberikan proteksi terhadap volatilitas pasar.

Sektor Energi: Meski sensitif terhadap harga komoditas dunia, beberapa emiten energi yang memiliki arus kas kuat tetap menjadi target akumulasi saat harga saham mereka terkoreksi tajam.

Akumulasi pada saham-saham ini menunjukkan bahwa investor asing tidak sepenuhnya keluar dari pasar Indonesia, melainkan hanya melakukan rotasi sektor atau memindahkan dana dari saham-saham lapis kedua (second liner) ke saham-saham dengan fundamental yang lebih teruji.

Menganalisis Penyebab Penurunan IHSG

Penurunan sebesar 0,43% ini tidak terjadi tanpa alasan. Ada beberapa faktor teknis dan fundamental yang mendorong tekanan jual di pasar modal dalam negeri:

Pertama, tekanan dari pasar obligasi global yang mempengaruhi aliran modal ke pasar ekuit Dum. Ketika imbal hasil (yield) obligasi di negara maju meningkat, investor cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang (emerging markets) seperti Indonesia untuk mencari keamanan di pasar yang lebih stabil.

Kedua, faktor teknikal. Level 6.121,70 merupakan area psikologis yang krusial. Kegagalan IHSG untuk bertahan di atas level dukungan tertentu dapat memicu aksi ambil untung (profit taking) secara berantai, yang pada akhirnya memperdalam koreksi indeks.

Ketiga, rendahnya likuiditas. Dengan nilai transaksi yang hanya berada di angka Rp13,24 triliun, pasar menjadi lebih sensitif terhadap tekanan jual. Dalam kondisi likuiditas yang tipis, volume penjualan yang tidak terlalu besar sekalipun dapat memberikan dampak penurunan yang signifikan terhadap pergerakan indeks.