PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI): Fokus pada segmen mikro membuat BBRI tetap menarik bagi investor asing yang mencari pertumbuhan berbasis dividen dan ekspansi kredit.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI): Performa penyaluran kredit korporasi yang solid menjadikan BMRI sebagai salah satu saham perbankan yang paling banyak dikoleksi.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI): Melalui berbagai langkah transformasi digital, BBNI mulai kembali masuk ke dalam radar utama investor asing.
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM): Sektor telekomunikasi tetap menjadi pilihan defensif sekaligus pertumbuhan, terutama dengan dominasi infrastruktur digital Telkom.
PT Astra International Tbk (ASII): Sebagai barometer ekonomi Indonesia, akumulasi pada ASII menunjukkan optimisme terhadap daya beli masyarakat dan sektor otomotif.
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR): Meskipun menghadapi tantangan, saham konsumer ini tetap menjadi incaran saat investor mencari proteksi di tengah volatilitas pasar.
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP): Ketahanan sektor consumer goods menjadikan ICBP sebagai saham pilihan saat terjadi rotasi ke sektor defensif.
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT): Ekspansi jaringan ritel yang masif menjadikan AMRT sebagai saham pertumbuhan yang menarik bagi aliran dana asing.
PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN): Sektor konsumsi pangan berbasis protein menjadi salah satu sektor yang mulai menunjukkan tanda-tanda akumulasi asing.
Dominasi Sektor Perbankan sebagai Penggerak Utama
Dapat dilihat dari daftar di atas, sektor perbankan (Big Banks) masih mendominasi daftar saham yang diserok oleh asing. Hal ini sangat wajar mengingat perbankan adalah sektor yang paling likuid di Bursa Efek Indonesia. Ketika IHSG menembus level 6.000, investor asing cenderung mencari keamanan (safety) sekaligus pertumbuhan melalui saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar (large cap) yang memiliki tata kelola perusahaan (GCG) yang baik.
Sektor Konsumsi dan Retail Sebagai Penyeimbang