DWJ Manajement - PORTAL

Asing Net Buy Rp1,58 T, Serok 10 Saham IniKala IHSG Ambruk

Oleh: DWJ-Manajement 27 Aug 2026
Asing Net Buy Rp1,58 T, Serok 10 Saham IniKala IHSG Ambruk

Meskipun 599 saham mengalami penurunan, dominasi tekanan jual ini tampaknya lebih banyak terkonsentrasi pada saham-saham dengan likuiditas tinggi, yang secara teknikal sering kali menjadi target volatilitas saat terjadi kepanikan pasar.

Fenomena Net Buy Asing: Strategi Akumulasi di Tengah Koreksi

Menariknya, meskipun indeks secara keseluruhan merosot, data transaksi menunjukkan bahwa investor asing tidak ikut panik. Sebaliknya, mereka justru memanfaatkan momentum penurunan harga untuk melakukan akumulasi pada saham-saham fundamental kuat. Dengan nilai net buy mencapai Rp1,58 triliun, terlihat jelas bahwa pemain besar (big money) melihat harga saat ini sudah berada di area yang cukup murah.

Strategi buy on weakness yang dilakukan asing ini mengindikasikan bahwa mereka memiliki pandangan jangka panjang yang positif terhadap prospek ekonomi Indonesia. Mereka cenderung memilih saham-saham yang memiliki rekam jejak profitabilitas yang stabil dan manajemen yang solid, meskipun kondisi pasar sedang volatil.

Daftar 10 Saham yang Diborong Investor Asing

Berdasarkan data aliran dana asing (foreign flow), berikut adalah daftar 10 saham yang menjadi target utama akumulasi investor asing saat IHSG mengalami koreksi. Saham-saham ini umumnya merupakan saham kategori blue chip yang memiliki likuiditas tinggi:

BBCA (PT Bank Central Asia Tbk): Menjadi primadona utama karena stabilitasnya yang luar biasa di segala kondisi pasar.

BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia Tbk): Investor asing melihat nilai valuasi yang menarik pada sektor mikro dan perbankan negara ini.

BMRI (PT Bank Mandiri Tbk): Masuk dalam radar akumulasi karena pertumbuhan kredit yang konsisten.

BBNI (PT Bank Negara Indonesia Tbk): Menunjukkan daya tarik kuat setelah koreksi teknikal.

TLKM (PT Telkom Indonesia Tbk): Sektor telekomunikasi tetap menjadi pilihan defensif bagi asing.

ASII (PT Astra International Tbk): Pergerakan sektor otomotif dan konglomerasi yang masih prospektif.

UNVR (PT Unilever Indonesia Tbk): Menjadi pilihan saat investor mencari saham konsumsi yang defensif.

ICBP (PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk): Saham konsumer yang tetap tangguh di tengah inflasi.

AMRT (PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk): Sektor ritel yang menunjukkan pertumbuhan organik yang kuat.

PGAS (PT Perusahaan Gas Negara Tbk): Menjadi pilihan seiring dengan stabilitas sektor energi.